Simpan bahasa-bahasa tersebut? Kami menerjenahkan kisah-kisah Global Voices agar media warga global dapat dinikmati semua orang.

Kenali lebih lanjut Terjemahan Lingua  »

Dianggap Menghina Mantan Perdana Menteri Singapura, Amos Yee dituduh Autis

From the Facebook page of Amos Yee

Dari Facebook milik Amos Yee

Amos Yee, seorang narablog video berumur 16 tahun asal Singapura, ditahan pada bulan Maret 2015 karena telah menunggah video di YouTube. Bersama dengan sebuah artikel yang ditulis pada blog-nya, remaja ini dituduh telah menghina Lee Kuan Yew, mantan Perdana Menteri Singapura

Dalam sesi dengar pendapat di bulan Mei 2015, hakim memutuskan bahwa Yee harus menjalani pemeriksaan fisik dan mental untuk menentukan pelatihan perubahan yang harus dijalaninya. Pada 23 Juni, pengadilan memutuskan bahwa Yee memenuhi syarat secara fisik dan mental untuk menjalani pelatihan perubahan. Sebagai tambahan, pemeriksaan psikiatris menemukan bahwa Yee ada kemungkinan menderita gangguan Spektrum Autis (ASD) dan hakim memutuskan bahwa Yee harus menambah pelatihannya dengan Perintah Rawatan Wajib (MTO). Hanya saja, beberapa orang meragukan keefektifan MTO jika diterapkan pada orang yang memiliki gangguan mental dengan alasan pelatihan tersebut dapat menghambat perkembangan seseorang.

ASD merupakan salah satu gangguan autis dengan karakteristik kurangnya kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi, serta selalu memiliki pola tingkah laku dan minat tertentu. Biarpun belum ada bukti bahwa austisme bisa diobati, beberapa pengobatan medis dianggap dapat mengurangi gejalanya. Sebagai contoh, sejumlah obat telah disetujui oleh Balai Obat dan Makanan Amerika Serikat (US Food and Drug Administration) untuk mengurangi tingkah yang mengganggu pada anak penderita autis. Jika pengadilan memutuskan bahwa Yee harus menjalani MTO, tidak jelas jenis ‘perawatan’ apa yang diberikan pada remaja penderita autis.

Ayah Yee mengatakan bahwa Yee tidak menjalani pemeriksaan autis. Komentar di dunia mayalah yang menduga Yee menderita autis. Dan komentar tersebut hanyalah berdasarkan pada pengamatan di video dan tidak melalui interaksi langsung dengannya.

Sebagai contoh, Starboard menganalisa gejala autistik Yee dengan mengamati perilakunya di dunia maya.

His lack of social skills is demonstrated by releasing the video at the time other people are mourning the passing of a former prime minister. He lacks empathy.

His repetitive behaviour of walking and eating his banana [are] another indicator.

His lack of social development is clearly seen when he was slapped. A normal person would have looked at the assailant, but he just nurse his pain and walks away without making eye contact. All three symptoms taken together shows sign of autism.

Kurangnya kemampuan sosial ditunjukan dengan mengunggah video tersebut pada saat orang-orang masih berduka dengan meninggalnya mantan perdana menteri. Dia tidak memiliki rasa empati.Ada perbuatan yang selalu dilakukan berulang-ulang yaitu berjalan sambil memakan pisang adalah indikator lain.
Kurang berkembangnya kemampuan sosial terlihat jelas ketika ditampar. Orang normal akan melihat penamparnya, tetapi Yee hanya mengeluh sakit dan berjalan begitu saja. Ketiga gejala ini jika digabung merupakan tanda-tanda autisme

Ada komentar lain yang merupakan stigma umum yang terhadap austisme dan beberapa bentuk kelainan mental yang beredar di Singapura.

Sedangkan pihak lain melihat tingkah lakunya hanyalah sebagai cerminan remaja yang terlalu bersemangat dan yakin pada pikirannya. Alfian Sa'at, yang merupakan penulis, membuat artikel yang menceritakan pengalamannya makan malamnya dengan keluarga Yee:

Amos Yee, as a teenager, is as normal as they come. They chafe at authority, will always look for wriggle room and bargaining leverage, have a sharp instinct for pointing out adult contradictions and hypocrisies.

Amos Yee sama normalnya dengan remaja lain. Mereka selalu sebal dengan otoritas, dan selalu mencari cara untuk melanggarnya atau melakukan tawar menawar. Dia juga memiliki ketajaman untuk menunjukan dunia orang dewasa yang penuh kontradiksi dan hipokrit.

Alih-alih membicarakan perilaku Yee, Alfian Sa'at menyarankan untuk melihat reaksi pemerintah Singapura sebagai masalah yang sesungguhnya:

When a brat acts up—and of course Amos can be taunting and bratty—the best thing that you can do is to ignore him and let him exhaust himself.

But no, some people decided to get all sanctimonious[…] the people who filed those police reports, the 8 policemen who arrested Amos at his house, the AGC, the man who smacked Amos[…]—all of you look so violent, hysterical, foolish and feeble. In trying to solve a ‘problem’ like Amos Yee you've only ended up displaying your own problems and neuroses–your pettiness, your cruelty, your beastliness, your insecurity–in all their garish detail.

Ketika seorang anak bengal beraksi, dan tentu saja tingkah Amos bisa mengejek dan tidak sopan; hal terbaik yang dapat dilakukan adalah tidak peduli dan membiarkannya lelah dengan sendirinya.Tapi, beberapa orang memutuskan bahwa hal tersebut harus dihukum: orang yang melaporkannya kepada polisi, 8 orang polisi yang menahan Amos di rumahnya, pengadilan, orang yang menampar Amos. Semuanya tampak garang, histeris, bodoh dan lemah. Dalam usaha untuk menyelesaikan ‘masalah’ yang ditimbulkan oleh Amos Yee, Anda (rakyat Singapura) pada akhirnya menunjukan masalah dan ketakutan Anda sendiri – kepicikan, kekejaman dan ketidakamanan – ke permukaan

Artikel GV terkait:

Singaporean teenager arrested for making videos deemed offensive

Singaporean teenager video blogger sent to rehabilitation for offensive youtube video

Mulai Percakapan

Relawan, harap log masuk »

Petunjuk Baku

  • Seluruh komen terlebih dahulu ditelaah. Mohon tidak mengirim komentar lebih dari satu kali untuk menghindari diblok sebagai spam.
  • Harap hormati pengguna lain. Komentar yang tidak menunjukan tenggang rasa, menyinggung isu SARA, maupun dimaksudkan untuk menyerang pengguna lain akan ditolak.