Simpan bahasa-bahasa tersebut? Kami menerjenahkan kisah-kisah Global Voices agar media warga global dapat dinikmati semua orang.

Kenali lebih lanjut Terjemahan Lingua  »

Penjualan ataupun meminum alkohol di tempat umum selepas pukul 22:30 kini dilarang di Singapura

Cartoon by Andimoo Studios, used with permission

Kartun karya Andimoo Studios, digunakan seiizin pemilik

Singapura telah meloloskan satu undang-undang yang melarang pembelian dan penjualan alkohol, termasuk minum alkohol di tempat umum, mulai pukul 22.30 sampai dengan pukul 07.00.

Rancangan undang-undang kontrol minuman keras (menyediakan dan mengkonsumsi), yang telah disetujui oleh Parlemen pada 30 Januari 2013, akan berlaku di bulan April. Pelanggaran pertama-kali akan didenda sampai dengan S$ 1.000 (sekitar US$ 800), sementara pelanggaran lebih dari sekali, tahanan sampai dengan 3 bulan dan denda maksimal S$ 2.000 (sekitar US$ 1.600) dapat dikenakan terhadap mereka.

Pemerintah menyatakan tindakan tersebut diperlukan setelah menerima banyak sekali keluhan yang berhubungan dengan tingkah laku mabuk. Tapi jurnalis Bertha Harian mengingatkan pemerintah bahwa sudah ada sebuah peraturan (Tindakan Pelanggaran Lain-lain) yang seharusnya mengurus masalah tersebut. Dia bertanya: “Mengapa mengayunkan godam apabila kalian sudah mempunyai senjata spesifik yang mengatur tingkah laku mabuk?”

Bagi Ariffin Sha, yang menulis untuk situsweb berita independen The Online Citizen, undang-undang tersebut “adalah sebuah manifestasi  kuat dari pendekatan dari atasan ke bawahan yang kebapakbapakan terhadap warga negaranya.” Dia menambahkan:

Kami mungkin punya sistem pendidikan yang merupakan salah satu dari yang terbaik, jika bukan yang terbaik, dan angka tertinggi jutawan perkapita di dunia, tapi kami masih membutuhkan pemerintah kami untuk memainkan peran sebagai pengasuh.

Chan Joon Yee kuatir bahwa pedagang-pedagang kecil akan menderita akibat peraturan baru tersebut:

Saya tidak menjual alkohol, tapi tidak sulit membayangkan bagaimana peraturan seperti itu akan mempengaruhi penjaga toko miskin yang berjuang. Beralih ke bahan kering dan sayur mayur? Apakah orang-orang ini serius? jadi berapa sewa yang dibayar oleh mereka? Dapatkah kamu bertahan dengan menjual sayur mayur dan bahan kering di lokasi seperti itu?

Bagi mereka yang ingin untuk berpiknik di taman atau berpesta di suatu tempat umum, mereka butuh untuk mendapatkan izin apabila ingin menyediakan alkohol selama acara. Gavin Khoo, yang menulis untuk situsweb berita Coconuts Singapore, yakin bahwa hal ini dapat menyebabkan ketidaknyamanan bagi banyak orang:

Bayangkan ini. Malam romantis di luar ruangan bersama orang yang kamu cintai, duduk di tepi pantai, mungkin menyaksikan kembang api di Malam Tahun Baru – waktu yang tepat untuk menyampaikan pertanyaan (lamaran – red). Bagaimanapun juga, sebotol minuman jus anggur berkarbonasi tidak akan pantas.

Dalam menanggapi kritik, pemerintah berkata bahwa berdasarkan survey yang mereka lakukan, empat dari lima (81 persen) orang mendukung pembatasan alkohol yang baru tersebut. Audrey Kang adalah salah satu dari warga Singapura yang sepakat dengan undang-undang tersebut.

Saya dapat melihat keuntungan undang-undang tersebut, meskipun benci atas dasar harus membayar lebih untuk alkohol atau mencari tempat alternatif untuk minum… tingkah-laku anti sosial lah yang undang-undang ini ingin dibatasi.

Banyak yang percaya bahwa tindakan tersebut diperkenalkan sebagai respon dari kerusuhan “Little India” pada Desember 2013 yang melibatkan residen warga asing dan polisi. Pemerintah menyatakan bahwa penggunaan alkohol merupakan faktor pengkontribusi yang mengarahkan kerusuhan.

Namun pemerintahlah yang dulu bersikeras bahwa kerusuhan tersebut merupakan kejadian yang terbatas dan tidak boleh digunakan untuk mendiskriminasi warga asing. Pemerintah seharusnya menarik kembali pernyataan tersebut karena undang-undang Kontrol Minuman Keras terkesan diskriminatif dengan mendefinisikan asrama pekerja warga asing sebagai suatu area publik. Yang berarti bahwa sementara warga Singapura dapat minum alkohol di rumah mereka, pekerja warga asing dilarang untuk minum, bahkan di luar jam kerja mereka.

Lebih buruknya, undang-undang memberikan kuasa kepada polisi untuk menggeledah tempat atau area publik yang dicurigai melanggar ketentuan undang-undang. Tidak heran beberapa warga Singapura mengkritik undang-undang karena bias terhadap pekerja warga asing yang dibayar murah.

Tapi ada suatu cara bagi warga Singapura untuk minum di tempat umum tanpa ditangkap oleh polisi. Alvinology memberikan nasihat yang lucu ini:

Minum tepat di luar pintumu.

Area di dalam pintu adalah ruang pribadimu kan? andai ada polisi datang, mundur ke dalam. Ketika mereka sudah pergi, letakkan satu kaki di luar dan kamu pun kembali menjalani hidup yang berbahaya, minum di tempat umum secara ilegal.

Mulai Percakapan

Relawan, harap log masuk »

Petunjuk Baku

  • Seluruh komen terlebih dahulu ditelaah. Mohon tidak mengirim komentar lebih dari satu kali untuk menghindari diblok sebagai spam.
  • Harap hormati pengguna lain. Komentar yang tidak menunjukan tenggang rasa, menyinggung isu SARA, maupun dimaksudkan untuk menyerang pengguna lain akan ditolak.