Simpan bahasa-bahasa tersebut? Kami menerjenahkan kisah-kisah Global Voices agar media warga global dapat dinikmati semua orang.

Kenali lebih lanjut Terjemahan Lingua  »

Bintang baru sepak bola Uighur dikirim ke kamp reedukasi oleh pemerintah Tiongkok bersama jutaan warga lainnya

Atlet sepakbola Erfan Hezim berswafoto dengan Lionel Messi beberapa minggu sebelum dia ditahan di kamp reedukasi. Foto oleh FifPro.

Piala Dunia 2018 membuat semua mata tertuju pada ajang tersebut. Namun sedikit yang sadar, apa atau siapa yang absen di lapangan.

Federasi Internasional Asosiasi Pesepakbola Profesional (FIFPro), persatuan atlet sepak bola profesional, meluncurkan pernyataan pada tanggal 13 Juni 2018 yang menyerukan pelepasan Erfan Hezim, pesepakbola berusia 19 tahun asal Uighur yang diberitakan ditahan di “kamp reedukasi politik” di provinsi Xinjiang, di bagian barat Tiongkok, sejak Februari 2018.

Hezim ditangkap tak lama dia kembali dari pelatihan di Spanyol dan Dubai.

Popularitas Hezim sebagai bintang baru sepak bola di negaranya, tidak membuat ia dikecualikan untuk dikirim ke kamp reedukasi. Menurut narasumber lokal yang dikutip Radio Free Asia, Hezim ditangkap dengan alasan “berkunjung ke negara asing”, meskipun alasan utamanya adalah untuk berlatih dan bertanding.

Hezim adalah satu di antara satu juta warga Uighur  di Xinjiang yang dikirim ke kamp-kamp reedukasi dimana mereka diajar untuk meninggalkan dan mengoreksi pemahaman agama dan pandangan politik mereka.

Apa yang terjadi di kamp-kamp reedukasi di Xinjiang tidak dapat dengan mudah diketahui, namun para mantan tahanan membeberkan bahwa kamp-kamp tersebut — yang beroperasi di jenjang kabupaten, kotapraja, dan desa — dikelilingi oleh kawat berduri, sistem pengamanan dan polisi bersenjata. Para mantan tahanan mengaku bahwa mereka dikirim ke sana tanpa melalui proses pengadilan dan selama ditahan mereka dipaksa meninggalkan kepercayaan mereka dan bersumpah setia kepada Partai Komunis Tiongkok (CCP).

Shawn Zhang, seorang mahasiswa hukum, menggunakan foto satelit untuk memvisualisasikan skala kamp-kamp tesebut, memberikan informasi tambahan atas perkara ini.

Kamp reedukasi di Kota Shufu (Kashgar Konasheher), Xinjiang. Foto oleh Shawn Zhang, via Medium.

Ada juga tudingan bahwa tahanan Muslim dipaksa makan babi dan minum alkohol untuk membuktikan bahwa mereka bukan lagi “ekstremis”.

Nampaknya warga Uighur dengan koneksi internasional menjadi taget utama penangkapan politis ini. Bulan Maret 2018, satu bulan setelah penahanan Hezim, Ablajan Awut Ayup, seorang musisi terkenal Uighur yang menjembatani penggemar Uighur dan Tiongkok melalui lagu-lagu bilingualnya, juga dilaporkan hilang. Popularitasnya, dalam hal ini sebagai ikon budaya, juga gagal melindunginya.

Guligeina Tashimaimaiti, seorang Uighur Tionghoa yang menempuh jenjang  pendidikan doktoral di Universitas Teknolongi Malaysia (UTM), dilaporkan hilang sejak Januari 2018. Menurut jaringan Scholars at Risk, Tashimaimaiti sedang berkunjung ke Ghulja, kampung halamannya, bulan Desember 2017, untuk mencari orang tuanya yang hilang. Kakaknya yang juga sedang bersekolah di Malaysia mengkonfirmasi bahwa Tashimaimaiti dikirim ke kamp reedukasi.

Warga Uighur yang menetap di luar negeri mengadvokasikan pembebasan sanak keluarga di kampung halaman mereka melalui Twitter.

Halmurat Harri, seorang dokter Uighur berkebangsaan Finlandia yang lahir di Turpan, provinsi Xinjiang, menyerukan pembebasan kedua orang tuanya:

Orang tuaku mengajariku untuk mengasihi. Mereka ditahan di kamp reedukasi. Aku berharap bahwa itikad baik akan mengalahkan kejahatan, Aku berharap penderitaan ini akan berakhir. Aku tidak mencari balas dendam, namun keadilan. Cintailah kebaikan, kebencian adalah jahat, teruslah berpegang pada kebaikan. Tolong doakan kami.

@Uyghurspeaker, yang terus mengikuti perkembangan tentang penangkapan Uighur di Xinjiang, baru-baru ini menerjemahkan sebuah pos yang ditulis oleh seorang Uighur berkewarganegaraan Kanada tentang kematian ibunya di kamp reedukasi:

Abdulaziz, Uighur berkewarganegaraan Kanada, mendapat kabar hari ini, bahwa ibunya, Adalet (dari Pichan), meninggal di kamp konsentrasi/penjara Tiongkok bulan Maret lalu. Jenazahnya tidak dikembalikan kepada keluarga (kemungkinan telah dikremasi). Dia ditangkap bulan Agustus 2016, sekembalinya dari mengunjungi Turki.

Sejumlah Uighur yang menetap di negara-negara barat telah mulai mengambil aksi, menuntut perhatian publik atas kamp-kamp konsentrasi Tiongkok ini:

Sekitar 100 Uighur berdemo di depan Kedubes Amerika Serikat di Belanda, meminta AS untuk menekan pemerintah Tiongkok untuk menutup kamp-kamp konsentrasi tempat sejuta warga Uighur kini ditahan.

Pemerintah pusat umumnya menghindari pertanyaan dunia luar mengenai kamp-kamp reedukasi — namun di dalam negeri, sumber-sumber berita negara dan partai mengatakan bahwa kamp-kamp tersebut merupakan strategi melawan ekstremisme Islam.

Pada perayaan Imlek bulan Februari 2018, Zhang Chunlin, Wakil Sekretaris Partai di Wilayah Otonomi Uighur Xinjiang, berdiskusi dengan para mahasiswa di Yarkant. Ketika Zhang meminta satu mahasiswa mengomentari penangkapan sanak keluarganya ke kamp reedukasi, mahasiswa yang bersangkutan menjawab:

这是党和政府治病救人的举措,是为了挽救我的家人免于处罚法律,我完全理解,也希望他们早日改正,做一个有益于社会的人

Ini adalah kebijakan pemerintah untuk mengobati yang “sakit” dan menyelamatkan keluargaku dari hukuman. Aku meyakini betul tindakan ini dan berharap bahwa mereka dapat diubah menjadi orang-orang yang berguna bagi masyarakat.

Selain wacana pemerintah, jarang sekali ditemukan komentar atau bahasan atas peristiwa ini di jejaring sosial Tiongkok.

Mulai Percakapan

Relawan, harap log masuk »

Petunjuk Baku

  • Seluruh komen terlebih dahulu ditelaah. Mohon tidak mengirim komentar lebih dari satu kali untuk menghindari diblok sebagai spam.
  • Harap hormati pengguna lain. Komentar yang tidak menunjukan tenggang rasa, menyinggung isu SARA, maupun dimaksudkan untuk menyerang pengguna lain akan ditolak.