Carolina

Joined Global Voices’ Project Lingua in 2008.

Cares about: Human rights, women prowess, social entrepreneurship, international dynamics, and peace efforts.

Email Carolina

Pos terkini oleh Carolina

Dari eksil menjadi bintang pop Cekoslowakia: Sebuah wawancara dengan Rony Marton

Jaroni Surjomartono, seorang pelajar asal Indonesia, tiba di Praha tahun 1963. Dia dan ratusan lainnya kemudian menjadi bagian dari episode brain drain politik Indonesia. Sebuah...

Peringatan Peristiwa Tiananmen: fakta pahit Beijing, seruan dari Hong Kong dan Taiwan

Para saksi dan aktivis bertanya-tanya: kapan Bejing mengakui fakta sejarah? Kapan mereka meminta maaf kepada keluarga korban?

Pemilihan Umum Indonesia 2019: Catatan unik dari masa kampanye

Menurut lembaga penelitian Australia, Loewy Institute, di tahun 2019 ini Indonesia merupakan negara demokrasi terbesar di dunia yang melaksanakan pemilihan presiden dan legislatif secara langsung.

Obat anti kanker sari pati ganja buatan ilmuwan Jamaika ini mendapat pengakuan FDA

Apa peran pemerintah pemerintah Jamaika dalam hal ini?

Jurnalis Luis Carlos Diaz hilang di Venezuela

Luis Carlos merupakan "salah satu sosok terkemuka jurnalisme disiden di Venezuela".

Apakah film favoritmu sarat maskulinitas beracun? Cek ulasannya di Mango Meter

"Kita berhak penuh untuk menikmati hiburan yang tidak merendahkan harga diri kita, dan terlebih lagi kita berhak menyuarakan suara dan pendapat kita."

Mengenang peranan terlupa Kofi Annan di Timor Leste

"Belasan warga Timor mengadakan aksi menyalakan lilin untuk mengenak mantan Sekjan PBB Kofi Annan dan kontribusinya dalam proses kemerdekaan Timor Timur."

Global Voices bermitra dengan Magdalene, majalah daring feminis Indonesia

Global Voices dengan bangga mengumumkan kerjasama kami dengan majalah daring feminis Indonesia, Magdalene. Majalah asal Jakarta ini konsisten menyuarakan isu-isu feminis, pluralis dan progresif sejak tahun 2013....

Seniman ‘Headache Stencil’ mengkritik junta Thailand lewat grafiti

"Jika orang melihat karyaku dan mulai menyadari banyaknya ketidakadilan, tandanya aku berhasil mencapai tujuan akhirku."

Ketika penghargaan Nobel Perdamaian menjadi sindiran terhadap Pemerintah Amerika Serikat

Sluruh dunia memilih Nadia dan Denis, sedangkan Amerika Serikat memilih Donald dan Brett.