Simpan bahasa-bahasa tersebut? Kami menerjenahkan kisah-kisah Global Voices agar media warga global dapat dinikmati semua orang.

Kenali lebih lanjut Terjemahan Lingua  »

Global Voices, Panduan Wisata Anti Mainstream

travel_shelf

Tahun lalu saya berada di Italia bersama seorang teman, menyesali pilihan sepatu yang saya bawa. Saya yang membawa sepatu lari dan sepatu boot kulit, keduanya kikis bagian bawahnya setelah beberapa hari dibawa berjalan keliling kota. Percakapan kami melahirkan sebua ide : Bagaimana jika ada sebuat situs atau aplikasi yang memungkinkan kita untuk ‘mengunjungi’ dan mengetahui keadaan negara tersebut secara nyata dan mengetahui sepatu apa yang cocok untuk dibawa? Situs tersebut dikurasi oleh penulis lokal, dan sebagai manfaat tambahan, saya dapat melihat pilihan pakaian yang pas dan menghindari terlihat sebagai turis

Ide yang tampak sederhana, tapi semangat yang ada dibalik ide tersebut sangat bermakna: “Kebanyakan generasi kita tidak ingin merasa atau terlihat seperti turis jika sedang bepergian. Hal ini menjelaskan mengapa perusahaan seperti Airbnb yang membantu turis untuk hidup seperti masyarakat lokal, kini naik daun

Pengalaman hidup di negara lain selama beberapa tahun ketika masih berusia muda juga membuat keinginan untuk menjalani gaya hidup seperti itu makin kuat tertanam. Saya lebih memilih tinggal di apartement, bergaul dengan penduduk lokal dan mengunjungi para penduduk lokal berkumpul dibandingan tinggal di hotel, mengikuti paket tur atau mengunjungi museum. Dan saya lebih memilih untuk membaca blog penduduk lokal dan ekspat yang tinggal di negara yang bersangkutan, dan Global Voices tentunya, dibandingkan dengan membeli buku panduan. Semuanya itu untuk mendapatkan gambaran lebih mendalam tentang tempat yang akan dikunjungi.

Kemudian saya berpikir : apakah ada orang lain yang mengunakan Global Voices sebagai panduan untuk berwisata. Saya kemudian mengajukan pertanyaan ini kepada beberapa rekan GV pada GV Summit yang baru lalu. Dan inilah jawaban mereka”

Marianna Breytman, salah satu penerjemah Spanyol-Inggris, berkata:

Saya selalu membaca GV sebelum travelling karena sangat membantu untuk melihat isu apa saja yang sedang hangat di satu tempat. Saya mencari informasi melalu GV ketika mengunjungi Panama, Mexico dan Columbia, dan saya berencana hendak melakukannya lagi sebelum melakukan perjalanan ke Turki

Anna Schetnikova, penulis GV dalam bahasa Rusia dan Inggris mengatakan:

“Saya mengunjungi Turki bersamaan waktunya dengan pemilihan umum. GV adalah sumber yang terpercaya untuk mengetahui bagaimana budaya politik negara tersebut, tentang partai politik, aktivis dan masyarakat. Ketika saya melihat poster di jalanan, saya langsung tahu maksudnya.”

Mohamed ElGohari, Koordinator GV Lingua dan perwakilan staf  dalam Dewan Pimpinan, baru saja menikah dan menggunakan GV untuk meneliti kondisi Maldives yang dipilih sebagai tujuan berbulan madu. Dia mengatakan bahwa tulisan ini yang mempengaruhi keputusannya untuk mengunjungi pulau tersebut.

Saya juga mengajukan pertanyaan di Twitter : Apakah Anda pernah menggunakan Global Voices sebagai acuan sebelum mengunjungi sebuah tempat? Emer Beamer, seorang pendidik dan social designer yang tinggal di Belanda (dan pembaca setia GV) bercerita melalui email bahwa dia mencari orang-orang setempat yang cocok dengan tujuannya bepergian. “Global Voices adalah gerbang pencariannya.” Ketika Beamer bepergian ke Kamboja, dia bertemu dengan tiga orang yang diketahuinya melalui GV dan kini bekerja sama dengan seorang penulis GV dalam sebuah proyek.

Beamer mengatakan bahwa dia menyukai bahwa GV dijadikan sebagai acuan sebelum melancong; dia menggunakannya untuk mengenai etika bekerja lokal yang meliputi tempat mencari koneksi wifi dan di mana para penduduk berkumpul untuk bertukar ide atau di mana counter culture terjadi di kota tersebut.” Dia juga merekomendasikan GV kepada para peneliti yang bekerja bersamanya, sebagai sebuah situs terpercaya yang dapat dilihat sebelum bepergian ke satu lokasi.

Katie Mulloy, yang bekerja untuk UNICEF di Uganda mengatakan bahwa GV adalah “sebuah tempat yang wajib dilihat untuk mendapatkan informasi tentang lokasi baru, yang tidak diungkap oleh media arus utama.” Sebagai seseorang yang rutin melakukan perjalanan, dia menggunakan situs GV untuk riset tentang Kamboja, Uganda dan Malaysia.

Saya bertanya kepada Mulloy tentang bayangannya jika ada satu bagian khusus Global Voices Travel. Dia berkata, ” Kebanyakan artikel tentang travelling ditulis oleh pelancong Barat dan ditujukan kepada sesama pelancong Barat juga. Tapi saya ingin tahu pendapat seorang mahasiswa seni di Korea tentang apa-apa saja yang bisa dilakukan di Seoul.”

Ben Valentine, seorang penulis lepas yang saat ini menetap di Kamboja mengatakan,” Sebagai jurnalis dan kutu buku, saya menginginkan informasi yang berbeda dengan yang tertulis di buku panduan wisata (seperti Lonely Planet, misalnya). Saya juga ingin tahu meme terbaru, bagaimana perdebatan politik tentang kebebasan berpendapat di berbagai negara. Dan tentang apa yang diperbincangkan para narablog di sana?”

Demi mendapatkan sudut pandang para narablog dan pengguna media sosial merupakan tujuan yang diungkap berulang kali oleh orang-orang yang saya wawancarai. El Mahdi, seorang narablog dari Maroko mengatakan bahwa membaca GV sebelum bepergian,memberikan pandangan tentang bagaimana orang-orang di negara tersebut mengkomentari berita di dunia maya, dan kemudian menerjemahkannya ke dalam bahasa yang bisa dimengerti. Kali pertama dia memanfaatkan GV adalah ketika mempersiapkan perjalanan ke Thailang, karena dia mencari situs yang dapat memberikan tentang informasi budaya di suatu tempat disamping Wikipeda dan informasi klise yang biasa ditulis tentang wisata di tempat tersebut.

Dalam surel yang dikirimkan kepada saya, El Mahdi juga menemukan sebuah istilah baru:

Sejak saat itu, GlobalVoicing suatu negara menjadi satu keharusan sebelum bepergian, sebagai tambahan dari Googling dan Wikipedi-ying, terutama jika saya tidak mengerti bahasa di negara tersebut

Mulai Percakapan

Relawan, harap log masuk »

Petunjuk Baku

  • Seluruh komen terlebih dahulu ditelaah. Mohon tidak mengirim komentar lebih dari satu kali untuk menghindari diblok sebagai spam.
  • Harap hormati pengguna lain. Komentar yang tidak menunjukan tenggang rasa, menyinggung isu SARA, maupun dimaksudkan untuk menyerang pengguna lain akan ditolak.