Simpan bahasa-bahasa tersebut? Kami menerjenahkan kisah-kisah Global Voices agar media warga global dapat dinikmati semua orang.

Kenali lebih lanjut Terjemahan Lingua  »

Pemancungan, Tembak-menembak dan Pembuangan Bayi: Jepang Sedang Menuju Kemana?

Liputan berita media berita utama Jepang minggu ini telah mengguncang masyarakat Jepang, banyak yang bertanya-tanya kemana arah tujuan negara mereka dan apa yang telah terjadi generasi muda bangsa. Yang paling sensasional adalah berita mengejutkan seorang remaja SMA yang membunuh lalu memenggal ibunya, kemudian kepala itu dibawa ke sebuah Kafe internet sebelum menyerahkan diri ke polisi. (Perlu dicatat bukan pertama kalinya kejahatan seperti ini terjadi di Jepang.) Polisi melaporkan bahwa setelah mengakui kejahatannya, remaja itu berkata: “Aku ingin terorisme dan perang menghilang dari dunia ini,” dan menjelaskan: “Tidak peduli siapa yang ku pilih untuk dibunuh.”

Berikutnya adalah kejadian sebuah penyanderaan 24 jam yang melibatkan seorang mantan gangster yakuza, yang bersembunyi di rumahnya di pinggiran kota dan menyandera mantan istrinya. Penyanderaan itu akhirnya berakhir, namun setelah pria itu membunuh seorang petugas kepolisian, melukai polisi lainnya, serta melukai putra dan putrinya sendiri.

Menambahi dua kejadian ini adalah kisah “Pos akachan” yang merupakan hal baru bagi masyarakat Jepang (Pos Bayi, juga disebut “Buaian Bangau”), semacam “pos bayi” berukuran 50 cm x 60 cm, yang bila dibuka adalah kompartemen kecil berpemanas. Orangtua yang, untuk alasan apapun, tak mampu merawat anak bisa meletakkan bayi mereka ke pos ini; petugas rumah sakit akan mendapat pemberitahuan saat pintu tempat ini dibuka, dan segera datang untuk mengambil bayi tersebut.


Baby Hatch

Baby post diagram

Gagasan memperkenalkan “Pos Bayi” dipicu oleh peningkatan kasus penelantaran anak di Jepang. Salah satunya, juga jadi sorotan minggu ini, melibatkan pasangan yang bayinya tewas di bagasi sepeda motor sementara mereka berjudi di tempat pachinko setempat, jasad bayi tersebut kemudian ditemukan di selokan.

Meski Pos Bayi membantu menghindari situasi mengerikan semacam ini, namun sistem ini bukannya tanpa cela. Saat pertama kali dioperasikan, seorang pria tampaknya salah memahami rentang usia yang dimaksudkan oleh “Buaian Bangau” ini dan meletakkan putranya yang berusia 3 tahun ke tempat bayi itu, ia mengatakan pada putranya kalau mereka sedang bermain petak umpet. Bocah itu rupanya mampu berbicara dan menyebutkan namanya.

Apa yang dipikirkan oleh masyarakat Jepang tentang berita-berita ini? Banyak yang menyatakan kesedihan mendalam tentang apa yang terjadi pada masyarakat Jepang. Blogger choumi merangkum situasi ini dengan baik pada beberapa baris pertama entrinya tentang topik ini:

母親を殺す息子に、
息子を捨てる父親。
嫌なニュースが立て続け。

Dari seorang putra yang membunuh ibunya,
sampai seorang ayah yang meninggalkan putranya.
Rangkaian berita mengerikan berlanjut.

Blogger lainnya dawnpurple menulis:

親殺し、子殺し、育児放棄など昔からあったといいますが、明らかに性質が変わっているといわざるを得ません。
いつもこの結論でどうしようもないのですが、いったい日本人はどうなってしまったのでしょうか。いや、世界か?

Pembunuhan orang tua, pembunuhan anak, pengabaian anak, kata orang hal-hal ini sudah lama berlangsung, namun tak ada yang bisa menyangkal kalau sifat mereka jelas telah berubah.
Seperti biasa, ini tak ada jawabannya, tapi kemana gerangan arah tujuan Jepang? Atau dunia memang seperi ini?

Dalam sebuah postingan berjudul “Apa ini yang kita sebut kehidupan?“, blogger bar_moonCot menulis:

何故、なんで命の奪い合いをしなければならないんだ? あんた方にとって、命とは一体どういうものなのだ!?
人間、所詮は「人の形をした獣」だということか?  否、俺はそうではないと信じたい。

Mengapa kita harus memperjuangkan hidup? Kalian semua, apa sih kehidupan itu!?
Apakah manusia, akhirnya, hanyalah “binatang berwujud orang”? Tidak, aku ingin percaya kalau aku tidak seperti itu.

人の心の奥底には、忘れることのない道徳心、慈しみの心を備えているはずだと、信じていきたい。
悲しいニュースではありましたが、改めて「命」というものを自分の中で再確認する機会となったのでした。

Jauh di lubuk hati, aku ingin percaya bila kita semua dilengkapi oleh moral dan rasa kepedulian, hal-hal ini tak boleh dilupakan.
Semua ini merupakan berita yang sangat menyedihkan, tapi bagiku merupakan kesempatan untuk menegaskan kembali apakah arti “hidup” sebenarnya.

Lainnya, seperti Anggota Dewan Prefektur Kanda Masakuni, mengaitkan peristiwa barusan ini dengan kehidupan pribadi mereka:

報道によれば母親殺害事件においては、被害者の母親は子供達に多くの愛情を注いでいたようであるし、赤ちゃんポストに預けられた3歳児は名前を名乗る事が出来るという。
ましてや赤ちゃんポストには、父親に連れられ預けられたという。
何という世の中かと思うと同時に、親の愛について考えさせられた。

Menurut laporan berita, dalam insiden pembunuhan ibu kandung, sang ibu, yang merupakan korban, terlalu mencurahkan cinta dan kasih sayang pada putranya, dan pada kasus anak yang dimasukkan ke Pos Akachan, bocah 3 tahun itu bisa menyebutkan namanya.
Pada kasus Pos Akachan, sang ayah membawa putranya lalu dimasukkan ke pos.
Ketika aku berpikir dunia macam apa ini, aku juga harus bertanya pada diri sendiri apakah cinta orang tua itu.

1つに、親の愛がなぜ子供に伝わらないのか?
もう1つが、親の愛をなぜ放棄するのか?

Pertanyaan pertama adalah: kenapa rasa cinta orang tua tak tersampaikan pada sang anak?
Pertanyaan berikutnya adalah: kenapa rasa cinta orang tua ditolak?

私も現在、子育ての真っ最中。
3人の子供は難しい盛りにある。
日頃から思っている事だが、親の愛の表現も千差万別、受け取る子供の感受性も千差万別であり、これが愛情表現という正解は無く、よって親子間による手探りの繰り返しこそが、親子の愛の深まりにつながるのかなぁと思っている。
勿論これは私の考えであり、もっと素晴らしい形で親子間の愛を深めておられる方も多いと思う。

Saat ini aku sedang membesarkan seorang anak.
Punya 3 anak menimbulkan tantangan yang sulit.
Ini adalah hal yang ku pikirkan setiap hari, tapi ada begitu banyak cara bagi orang tua untuk menunjukkan rasa cintanya, dan juga ada begitu banyak jenis kesediaan untuk menerima cinta bagi anak-anak ini. Tak ada jawaban yang tepat atas pertanyaan bagaimana mengekspresikan rasa cinta, tapi ku rasa, mungkin, uji coba berulang kali dari kedua belah pihak dalam hubungan ini berkaitan dengan pendalaman cinta antara orang tua dan anak.
Tentu saja ini cuma pendapatku, aku yakin orang lain punya cara yang lebih baik dalam memperdalam rasa cinta antara orang tua dan anak.

Ada kelompok blogger lain yang memilih posisi yang berbeda, dengan alasan bahwa media arus utama telah menjadikan berita-berita ini sensasional dengan mengorbankan isu-isu lain, yang mendapat perhatian jauh lebih sedikit (atau tidak sama sekali). Blogger mk-labo mengekspresikan sentimen ini:

メディアは、こういった事例をセンセーショナルに取り上げて
「時代がおかしくなった」「若い世代はキレるから怖い」と
いたずらに不安を煽ろうとはしていないだろうか。

Sepertinya media telah menjadikan insiden ini sensasional, tidak perlu mengobarkan ketakutan dengan mengatakan: “Kita berada pada masa yang kacau”, “Generasi muda mudah meledak, dan ini menakutkan”.

Blogger lainnya menjadikan komentar ini lebih eksplisit. Blogger wayakucha berpendapat kalau berita-berita sensasional digunakan untuk menutupi isu-isu lain yang lebih penting, seperti pasal hukum referendum nasional baru dan aksi protes di Teluk:

他の方も指摘されていますが、ここに書かせてください。本日の夕刊で、国民投票法ごり押し、沖縄復帰35周年を大きく扱った全国紙、あるいは、在京キー局のニュースがありましたか?
ないですね?

Yang lain juga berpendapat demikian, tapi biar kutuliskan disini. Apakah ada koran sore atau surat kabar nasional, atau stasiun siaran utama yang berkantor pusat di Tokyo, yang meliput paksaan hingga batas tertentu dari Hukum Referendum Nasional [untuk amandemen UUD], atau perayaan 35 tahun kembalinya Okinawa ke kedaulatan Jepang?
Enggak ada, kan?

 本日のトップは、高校生が母親殺害か、赤ちゃんポストに3歳児、ですね。
つまり、これらの事件は、国民投票法を隠すために使われていたのです。
実際、赤ちゃんポストは、10日に分かっていたのです。それが、なぜ本日、これだけ大きく報じられたのでしょうか?

Yang beken di Jepang adalah berita siswa SMU yang membunuh ibunya, berita bocah 3 tahun yang ditinggalkan di Pos Akachan.
Dengan kata lain, kejadian-kejadian ini digunakan untuk menyembunyikan berita Hukum Referendum Nasional.
Sebenarnya, berita Pos Akachan sudah diketahui pada tanggal 10. Jadi, kenapa hanya berita ini yang diliput besar-besaran di Jepang?

 私は、高校生の母親殺害も、少し前の事件で、本日、国民投票法を隠すためにリークされたと思っています。日本の警察には、赤子の手をひねるようなものです。

Aku juga yakin kalau berita siswa SMU yang membunuh ibunya, dalam insiden sebelumnya, dibocorkan demi menutupi berita [pengesahan] Hukum Referendum Nasional. Polisi Jepang memelintir tangan anak itu, atau semacam itulah.

[…]

 さらに、沖縄で、辺野古の基地に反対する市民を弾圧するために、自衛隊が「派兵」されています。いつ、国民に、自衛隊が銃口を向けるか、わかりません。
明日の朝は、北朝鮮が核ミサイルを撃ったとか言うニュースが流れても、私は驚きません。
日本の言論統制は、ここまで進んでいる…のではなく、もともとそうなのです。

Dan lagi, di Okinawa, untuk menekan penduduk yang menentang pembangunan pangkalan militer di Teluk Henoko, Pasukan Bela Diri Jepang (SDF) “dikerahkan”. Kau takkan pernah tahu kapan SDF akan menodongkan senjatanya ke warga kota.
Meskipun, besok pagi, ada berita kalau Korea Utara telah meluncurkan rudal nuklir, aku tidak akan terkejut.
Sikap Jepang yang supresif terhadap kebebasan berbicara sudah sejauh ini … tidak, sebenarnya memang sudah begini sejak awal.

Akhirnya, blogger lain yang lebih introspeksi. Postingan blogger kiryuyrik tentang topik ini, berjudul sederhana “Saikin…” (Belakangan ini…), mengekspresikan kecemasan dan kesedihan:

なんとなく
泣きそう。。
そんな気分。。。

Untuk beberapa alasan tertentu,
Rasanya aku seperti menangis…
Rasanya seperti itu…

特に意味はない。
でも涙が出そう。
切ないです。

Tidak ada alasan khusus.
Tapi rasanya akan menitikkan air mata.
Begitu menyakitkan.

最近のニュースもそんなんばっかり。
エキスポランドの事故死
神戸の妊婦殺害
福島の母親殺害
赤ちゃんポストに3歳児
負の連鎖
が止まらない。

Belakangan ini semua berita seperti ini.
Kejadian di ExpoLand
Pembunuhan ibu hamil di Kobe
Pembunuhan ibu Fukushima
Bocah 3 tahun yang ditinggalkan di Pos Akachan
Perkembangan berita negatif ini
tidak dihentikan.

誰か止めてくれ。
ニュースを見る度に鬱になる。
悲しい。。

Seseorang hentikan ini.
Ketika menonton berita, aku jadi tertekan.
Begitu menyedihkan…

何かが蔓延している気がする
社会の流れとかじゃない。。
何かに侵されてる。
そんな気がする

Aku punya perasaan kalau sesuatu sedang menyebar
Ini bukan sekedar tren sosial.
Ada hal lain yang sedang menjangkiti kita.
Perasaanku seperti itu.

暗いニュースばっかり。。
マスコミも無駄に食いつく。
無意味な報道合戦

Hanya ada berita muram…
Media massa terpancing, semua itu tanpa alasan.
Sirkus media yang tidak mempunyai arti

最近少し疲れました。。

Belakangan ini, aku jadi sedikit bosan.

Mulai Percakapan

Relawan, harap log masuk »

Petunjuk Baku

  • Seluruh komen terlebih dahulu ditelaah. Mohon tidak mengirim komentar lebih dari satu kali untuk menghindari diblok sebagai spam.
  • Harap hormati pengguna lain. Komentar yang tidak menunjukan tenggang rasa, menyinggung isu SARA, maupun dimaksudkan untuk menyerang pengguna lain akan ditolak.