Simpan bahasa-bahasa tersebut? Kami menerjenahkan kisah-kisah Global Voices agar media warga global dapat dinikmati semua orang.

Kenali lebih lanjut Terjemahan Lingua  »

HAM Pengidap AIDS Kongo: Ragam Diskriminasi

Anggota AZUR Development organization kenal betul stigma dan diskriminasi yang dihadapi pengidap HIV/AIDS di Kongo. Melalui berbagai proyek LSM, mulai dari siaran radio, bloging dan mengumpulkan data mengenai HIV/AIDS, mereka merupakan saksi utama ketidakadilan.

Terdapat 79.000 orang (atau 3,5 persen dari total keseluruhan orang dewasa) di Kongo yang hidup dengan HIV/AIDS. Proyek HAM Pengidap AIDS di Kongo yang dijalankan AZUR Development, dibiayai melalui program donasi Rising Voices, mereka bekerja untuk mendokumentasikan stigma dan dsikriminasi yang dihadapi warga. Mereka melakukan tugas mereka dengan cara menulis kisah pribadi mereka dalam blog. Melalui proyek tersebut, petugas bidang komunikasi dan pemimpin LSM HIV/AIDS lokal juga dilatih untuk menulis cerita digital,  podcasting, dan bloging. Tiap petugas komunikasi mempraktikan keahlian baru mereka ini untuk berbagi cerita tentang pengaruh HIV/AIDS komunitas lokal tempat mereka bekerja.

Training session for communication officers and leaders of local HIV and AIDS organizations.

Sesi pelatihan jurnalisme warga bagi petugas komunikasi dan pimpinan LSM HIV/AIDS setempat.

Pos teraktual merupakan refleksi bagaimana segmen-segmen berbeda di komunitas pengidap HIV/AIDS Kongo telah mempengaruhi komunitas karena adanya stigma yang menjadi beban para penderita. Beberapa pos terfokus  pada permasalahan yang dialami kaum perempuan, yang merupakan 59 persen dari total penderita HIV/AIDS di Kongo.

Contohnya, sebuah pos yang ditulis oleh Dieudonnée Blandine Louzolo, Asisten Komunikasi AZUR Development’ yang membicarakan tentang kualitas fasilitas kesehatan yang mendiskusikan kualitas fasilitas kesehatan yang tidak memadai bagi perempuan pengidap HIV/AIDS. Meski layanan HIV/AIDS telah banyak tersedia di kota Pointe-Noire, perilaku negatif dari para pekerja medis masih merupakan hambatan besar bagi para perempuan ini untuk mendapatkan perawatan yang manusiawi. Bagi sebagian besar perempuan, mereka terjebak : mereka didorong untuk melakukan tes HIV, namun bila terbukti positif mereka harus membayar. Pos berikut menjelaskan bagaimana hal hal ini berlaku juga bagi para perempuan yang sedang mengandung.

Para pekerja medis profesional di rumah sakit, yang seharusnya menyediakan dukungan moral dan psikis bagi pasien, membiarkan para ibu-ibu melahirkan terbengkalai karena mereka takut terinfeksi HIV; oleh sebab itu beberapa kode etik tidak lagi dihormati.

Seorang wanita penderita HIV positif kehilangan bayinya dalam proses melahirkan di sebuah rumah sakit di Pointe-Noire karena dia menderita HIV positif dan tak satu bidanpun mau menyentuhnya. Sebagian besar dari mereka setelah menjalani PMTCT [Program Pencegahan Penularan dari Ibu ke Anak] ditinggalkan begitu saja… Terdapat juga seorang ibu hamil pengidap HIV positif yang akhirnya diselamatkan oleh bidan magang, meskipun sesudahnya si bayi meninggal; namun kasus ini kagi-lagi disebabkan oleh para bidan yang takut terinfeksi.

Di RS bersalin,  para perempuan yang menderita HIV tidak tahu apa yang akan dilakukan bila bidan meminta mereka untuk mengenakan sarung tangan panjang. Terkadang status HIV mereka bahkan dibocorkan kepada pihak keluarga tanpa seizin penderita…

…Penolakan, keengganan, dan penyisihan para perempuan penderita HIV terus berlanjut. Aktivis AIDS harus menghentikan diskriminasi, yang melanggar hak perawatan kesehatan bagi perempuan-perempuan penderita HIV positif.

Sylvie Niombo, ketua proyek dan direktris eksekutif AZUR Development, menulis sebuah pos mengenai kelompok perempuan lainnya yang menderita HIV-positif yang jug amengalami diskriminasi, yaitu para perempuan pribumi. AZUR Development membantu mereka membina program yang dilaksanakan perawatan di rumah-rumah bagi  para perempuan pribumi yang menderita penyakit HIV/AIDS di propinsi Lékoumou. Daerah ini memiliki peringkat  jumlah penderita HIV tertinggi di Kongo. Dalam pos tersebut, Niombo merefleksikan hasil proyek:

Dinamakan pygmy, warga probumi di propinsi Lékoumou hidup dalam kemiskinan luar biasa dan jauh dari sebagian populasi (suku Bantu). Mereka tinggal di gubuk-gubuk, bertahan hidup dengan berburu dan mengumpulkan makanan dari hutan. Pygmies memiliki sedikit sekali akses  pendidikan dan bantuan sosial dasar. Mereka didiskriminasikan oleh suku Bantu, yang menganggap diri mereka lebih superior dari pygmy.

Banyak perempuan dan laki-laki pygmy  bekerja sebagai buruh kasar bagi para warga Bantu. Namun ketika mereka terkena HIV/AIDS, semakin rumitlah situasi. Para perempuan amat rentan terhadap HIV/AIDS dan pastinya mereka akan dicela….

…Ketika mereka mencari bantuan untuk pertama kalinya di Sibiti, setelah divonis postif HIV, warga pribumi biasanya tidak akan kembali ke tempat asal  mereka. Hal ini dapat kita pahami. Siapa yang akan membayar biaya transportasi mereka, makanan dan tempat tinggal di Sibiti hingga mereka dapat bertahan hidup dengan HIV/AIDS? Jawabannya mudah sekali: tak seorangpun! Sudah dicap ‘lebih rendah dari bukan apa-apa’ oleh sebagian besar warga Bantu, sungguh sulit membayangkan bahwa mereka bisa mengandalkan pertolongan dari orang lain.

AZUR Development dan ACIP ingin menciptakan sesuatu yang baru, mencanangkan proyek pelatihan bagi perempuan pribumi penderita HIV-positif dan perempuan Bantu untuk menjaga diri mereka sendiri dan sesama mereka.

Perempuan pengidap HIV-positif saja yang dicap buruk. Dieudonnée Blandine Louzolo juga mendiskusikan bagaimana efek penyakit HIV/AIDS bagi mereka yang dipenjara di Kongo. Pos tersebut berbagi sebuah kisah narapidana laki-laki di Pointe-Noire dan bagaimana cerita diri serta kawan-kawannya mencerminkan perlunya mengadvokasi HAM mereka yang hidup dengan HIV/AIDS, alih-alih hanya fokus kepada program pencegahan.

Di Pointe-Noire, Kongo, seorang ayah dan pria menikah yang mengidap HIV positif dibebeaskan dari penjara ketika polisi mengetahui bahwa napi berstatus penderita HIV. Dalamnya arti cerita ini harus kita analisa.

Kita tidak akan pernah kekah mengatakan bahwa HIV/AIDS terus menerus menjadi subjek kontroversi dan cap buruk bahkan di pos-pos polisi sekaligus.

Seorang pria penderita HIV positif yang melakukan kejahatan dipenjara disebuah pos polisi di lingkungan tempat tinggalnya dan sedang menjalani prosedur hukuman. Dia dibebaskan karena pihak kepolisian khawatir bahwa dia akan menulari narapidana lainnya.

Bloging merupakan satu yang digunakan AZUR Development untuk mengangkat topik-topik mengenai diskriminasi yang terjadi ke permukaan. Cara lain yang mereka gunakan untuk melawan stigma dan meningkatkan kesadaran akan isu-isu yang berkaitan dengan HIV/AIDS adalah radio. LSM ini telah membuat berbagai program radio bekerjasama dengan CJESS, sebuah LSM Pemuda di kota Pointe-Noire yang menyoroti isu seksualitas. Niombo menjabarkan bagaimana siaran radio ini menolong orang banyak untuk mengubah cara pandang mereka terhadap warga pengidap HIV/AIDS:

‘Siaran ini tidak berisi hal-hal yang biasa kita dengar,’ menurut para pendengar. Herman Malanda,  kordinator CJESS sekaligus penyiar radio, mengatakan bahwa pendengar terkejut dan tertarik akan program-program mereka. SMS dan telpon berdatangan meminta lebih banyak informasi mengenai perawatan AIDS dan bagaimana orang dapat hidup dengan HIV.

Yang menarik dari siaran-siaran radio ini adalah bahwa mereka telah mematahkan tabu dan menolong mereka yang kekurangan informasi bagaimana keluarga dapat menolong seseorang yang terinfeksi HIV.

Kita sering mendengar kisah tentang orang tua yang tidak rela mengeluarkan uang bagi penderita HIV positif, karena mereka dianggap ‘sekarat’ sehingga memberikan pertolongan dianggap sama sajadengan membuang-buang waktu. Siaran-siaran radio ini bertujuan untuk mendidik keluarga mengenai fakta bahwa mereka yang hidup dengan HIV bukanlah kriminal dan bahwa semua orang layak dicintai. Solidaritas harus ditunjukan kepada mereka yang menderita HIV.

LSM juga berencana meluncurkan program radio yang menyorot isu HIV/AIDS dan kekerasan terhadapa perempuan dan anak-anak perempuan.

Mulai Percakapan

Relawan, harap log masuk »

Petunjuk Baku

  • Seluruh komen terlebih dahulu ditelaah. Mohon tidak mengirim komentar lebih dari satu kali untuk menghindari diblok sebagai spam.
  • Harap hormati pengguna lain. Komentar yang tidak menunjukan tenggang rasa, menyinggung isu SARA, maupun dimaksudkan untuk menyerang pengguna lain akan ditolak.