Simpan bahasa-bahasa tersebut? Kami menerjenahkan kisah-kisah Global Voices agar media warga global dapat dinikmati semua orang.

Kenali lebih lanjut Terjemahan Lingua  »

Indonesia Dengan Gembira Menyambut Raja Saudi, Namun Aktivis Mewaspadai Pengaruh Riyadh

Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz Al Saud. Sumber: Flickr / Jim Mattis / Milik pemerintah Amerika Serikat

Selang 47 tahun, Raja Arab Saudi akhirnya kembali mengunjungi Indonesia. Kunjungan tersebut disambut hangat oleh banyak warga Indonesia, negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, namun banyak juga yang menyatakan kekecewaan terhadap pemerintah yang tidak mengangkat masalah yang dialami oleh para buruh migran Indonesia yang menderita di Arab Saudi.

Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud tiba di Indonesia pada 1 Maret sebagai salah satu negara tujuan yang termasuk dalam rangkaian kunjungan Asianya selama sebulan. Negara lain seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Cina, Jepang, dan Maladewa juga dikunjungi oleh beliau. Terhitung 1.500 delegasi pengiring beliau, termasuk 25 pangeran and 10 menteri.

Kunjungan terakhir oleh penguasa Arab ke Indonesia terjadi pada saat pemerintahan Faisal bin Abdulaziz Al Saud.

Raja Salman disambut oleh Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi) sebagai wali dua kota suci Islam, Mekah dan Madinah.

Jokowi juga mengundang Raja Arab untuk ikut serta di video blognya. Jokowi menekankan bahwa kunjungan bersejarah sang Raja akan memperkuat hubungan antara Indonesia dan Arab Saudi.

Perlindungan atas pekerja Indonesia di Arab Saudi

Selama perkunjungan Raja Saudi, Indonesia dan Arab Saudi menandatangani 11 perjanjian kerjasama antara lain dalam hal budaya, perdagangan dan investasi, ilmu pengetahuan, penangkalan kejahatan, dan urusan Islam.

Namun, kelompok-kelompok pro buruh mempertanyakan pemerintah Indonesia yang lalai mengangkat isu perlindungan tenaga kerja Indonesia di Arab Saudi.

Indonesia berhenti mengirim buruh ke Arab Saudi sejak 2011, karena banyak buruh migran Indonesia yang menderita ditangan majikan mereka. Meski adanya larangan tersebut, banyak penduduk Indonesia yang terus berdatangan ke kerajaan untuk bekerja sebagai pekerja domestik ilegal,  membuat mereka rentan terhadap berbagai macam kekerasan.

Menurut Kementerian Luar Negeri Indonesia, ada lebih dari 630.000 orang Indonesia yang bekerja di Timur Tengah, termasuk di Arab Saudi. Namun jumlah tersebut bisa jadi lebih besar bisa mencakup  para pekerja yang tidak berizin dan para korban penyeludupan manusia.

Sebuah protes damai diadai di depan Kedutaan Besar Arab Saudi oleh para aktivis saat kunjungan Raja Saudi. Mereka menuntut perlindungan hak asasi manusia yang lebih baik bagi pekerja Indonesia di Arab Saudi, dimana pekerja rumah tangga masih dianggap oleh majikan mereka sebagai kaffallah (benda milik).

Menanggapi hal tersebut, pemerintah Indonesia menyatakan bahwa Jokowi dan Raja Salman sempat membahas isu tentang buruh migran Indonesia. Raja Salman dilaporkan memberi jaminannya pada Jokowi bahwa beliau akan memperlakukan pekerja-pekerja Indonesia di Arab Saudi tak ubahnya  rakyatnya sendiri.

Wahabisme di Indonesia

Meningkatnya ekstremisme di Indonesia juga dibahas oleh para netizen saat kunjungan Raja Saudi. Indonesia umumnya dikenal sebagai negara toleran dalam hal antar-agama, meski dalam beberapa tahun terakhir para penganut konservatif garis keras menjadi lebih aktif menjadi oposisi pemerintah petahana, yang mereka tuduh lemah dalam membela Islam. Mereka juga telah menyuarakan keinginan mereka untuk mendirikan kalifat Islam di Nusantara.

Dalam pidato Raja Salman di hadapan para anggota dewan dan badan legislatif, Raja Salman mendorong kolaborasi untuk memerangi terorisme dan ekstremisme.

Sang Raja dan rombongannya juga mengadakan pertemuan dengan pemimpin-pempimpin agama di Indonesia.

Meskipun penerimaan positif yang menyambut Raja Saudi, beberapa penduduk masih waspada terhadap kebangkitan Wahabisme di Indonesia.

Secara historis, Wahabisme muncul di Indonesia sejak era kolonial Belanda ketika para pemimpin Muslim mengambil senjata untuk melawan pemerintah kolonial Belanda.

Tetapi interpretasi ekstrem Wahabisme baru menguat di era 1980an dengan munculnya sekolah khusus bahasa dan budaya Arab yang didanai Saudi. Hari ini, penduduk Muslim moderat di Indonesia bersatu untuk melawan penyebaran interpretasi ekstrem Wahabi dan Salafi terhadap agama Islam.

Mulai Percakapan

Relawan, harap log masuk »

Petunjuk Baku

  • Seluruh komen terlebih dahulu ditelaah. Mohon tidak mengirim komentar lebih dari satu kali untuk menghindari diblok sebagai spam.
  • Harap hormati pengguna lain. Komentar yang tidak menunjukan tenggang rasa, menyinggung isu SARA, maupun dimaksudkan untuk menyerang pengguna lain akan ditolak.