Simpan bahasa-bahasa tersebut? Kami menerjenahkan kisah-kisah Global Voices agar media warga global dapat dinikmati semua orang.

Kenali lebih lanjut Terjemahan Lingua  »

Keragaman Venezuela yang Terlihat di Lantai Dansa

Guarapita

Kelas tarian rakyat Venezuela yang diadakan Camerino Company. Cuplikan dari video yang didistribusikan online.

Tepat pada Hari Folklore Dunia, yang dirayakan pada 22 Agustus lalu, orang-orang Venezuela mengekspresikannya dengan budaya negara tersebut yang dirasakan mewakili identitas mereka. Beberapa tarian yang berakar dari budaya Afrika saat ini memiliki tempat khusus dan menjadi pengaruh besar bagi identitas Venezuela.

Salah satu contoh adalah video yang dipublikasikan oleh studio tari Camerino Company (lewat akun  Drone Venezuela), hampir 300.000 kali ditonton dan sejumlah komentar yang penuh nostalgia dari pemilik akun yang menjadi bagian dari diaspora Venezuela.

The video features a so-called drum dance, which originated on the northern coast of Venezuela, and is possibly the most popular Afro-Venezuelan cultural art form among young people. Both on the coasts and in the rest of the country, it is common for parties to dedicate spaces for listening and dancing to the music of drums.

Video ini menampilkan sebuah tarian yang disebut drum dance, yang aslinya berasal dari pantai utara Venezuela dan merupakan tarian Afro Amerika yang sangat populer bagi kaum muda. Di kedua wiliyah pesisir (Utara dan Selatan), juga di seluruh bagian negara, sudah menjadi satu kebiasaan di satu pesta untuk menyediakan tempat untuk mendengarkan musik dan menarik diiringi iringan drum.

Dari video terlihat bahwa koreografi dipengaruhi oleh berbagai gaya, gabungan antara tradisional dan modern yang justru menarik kalangan yang lebih luas untuk menikmati dan berpartisipasi. Video yang ditampilkan Camerino Company adalah sebuah contoh nyata tentang ekspresi budaya yang bisa dilakukan di ruang pelatihan, dan disaat yang menjaga hubungan dengan perayaan populer.

Kembalinya Afrika ke Karibia

Seluruh bagian Venezuela utara didominasi oleh keberadaan Laut Karibia. Fakta ini memiliki implikasi budaya yang penting bagi negara ini.

Bahkan sebelum dikuasai bangsa Spanyol, pesisir yang luas telah menjadi tempat migrasi di antara penduduk asli di wilayah tersebut, yang bergerak dari sisi satu benua menuju sisi lainnya, terdorong oleh perdagangan dan sosiokulturan yang dinamis. Sejak saat itu, arus perpindahan tersebut tidak pernah berhenti.

1024px-Moll_-_A_Map_of_the_West-Indies

Pada peta Britania Raya dari tahun 1736, terlihat wilayah yang dikenal sebagai Hindia Barat: Karibia dan Bahama. Di bawahnya, tampak wilayah yang kini menjadi wilayah Venezuela saat ini.

Pada tahun 1498, pada perjalanannya yang ketiga, Christopher Columbus tiba di Tierra de Gracia atau yang biasa dikenal dengan “Tanah Berkat”. Wilayah tersebut dikuasai oleh penduduk asli yang biasa dikenal dengan Caribs. Tiga puluh tahun kemudian, orang Eropa mulai membawa budak Afrika pertama, yang bersama dengan penduduk asli, mulai membentuk pemukiman kolonial yang menjadi bagian dari ‘Dunia Baru’

Bahkan setelah beberapa abad, pesisir Venezuela merupakan saksi bisu dari perjalanan sejarah yang panjang. Jumlah orang Afro-Venezuela yang tinggal di sana cukup banyak, merepresentasikan sejarah kekayaan sejarah, yang juga mempengaruhi keadaan saat ini. Tak terhitung usaha komunitas ini menjaga warisan sejarah dari generasi ke generasi. Ketika masa perbudakan melahirkan berbagai larangan, lahir bahasa metafora untuk meratapi kehidupan yang tercerabut dari akarnya, dengan menggubah lagu cinta yang sedih. Lagu penyemangat kerja, di lain piha, menolong untuk tetap semangat di tengah deraan pekerjaan tiada akhir dan lagu nina bobo untuk menidurkan anak.

Baik musik dan tarian adalah media untuk berkomunikasi dengan beberapa dewa dalam kepercayaan Arika, yang mereka bawa ke Hindia Barat. Dewa-dewa yang pada akhirnya menjadi bagian dari ritual keagamaan mestizo (orang-orang campuran Spanyol, dalam hal ini Afrika-Spanyol), dan juga berpengaruh pada perayaan yang sifatnya sekular.

Alat musik seperti quitiplas (sejenis perkusi dari batang bambu), marimbula atau arpa tuyera (sejenis harpa) adalah beberapa alat musik Venezuela yang merupakan warisan dari Afrika, yang sudah dirubah di sana-sini. Di beberapa wilayah, alat-alat musik ini masih dimainkan untuk mengiringi orang menari; cara-caranya pun masih diajarkan.

Para penari yang tampil di video berasal dari Camerino Company, tentu saja bukan hanya mereka yang memiliki minat terhadap musik dan tari Venezuela tidaklah. Mereka dan para pemuda lainnya melanjutkan tradisi yang menyatukan Venezuela di tengah-tengah perbedaan dengan wilayah Karibia lainnya. Akan tetapi, disaat yang sama, tidak melupakan luka masa lalu yang terus menerus dipulihkan.

 

Mulai Percakapan

Relawan, harap log masuk »

Petunjuk Baku

  • Seluruh komen terlebih dahulu ditelaah. Mohon tidak mengirim komentar lebih dari satu kali untuk menghindari diblok sebagai spam.
  • Harap hormati pengguna lain. Komentar yang tidak menunjukan tenggang rasa, menyinggung isu SARA, maupun dimaksudkan untuk menyerang pengguna lain akan ditolak.