Simpan bahasa-bahasa tersebut? Kami menerjenahkan kisah-kisah Global Voices agar media warga global dapat dinikmati semua orang.

Kenali lebih lanjut Terjemahan Lingua  »

Libya: Kasus Tentara Bayaran Afrika (Video)

Pos ini merupakan bagian dari liputan khusus kami Gejolak di Libya 2011 [En].

Salah satu sub-plot yang meresahkan dari gejolak melawan Kolonel Muammar Al Gaddafi yang telah berlangsung 2 minggu di Libya adalah laporan tentang penggunaan “tentara bayaran Afrika” untuk mendukung rezimnya yang mulai runtuh.

Global Voices telah meliput cerita-cerita [En] tentang tentara bayaran dari Serbia yang mengebom warga sipil dari pesawat terbang. Namun kebanyakan spekulasi tentang tentara bayaran menyebutkan bahwa mereka “asing” atau “Afrika” – yang berarti berasal dari sebelah selatan Gurun Sahara – dan “berkulit hitam”. Kisah ini diteruskan di mana-mana di media internasional, di media Arab, di media online citizen dan video.

Mengapa memberi cap “Hitam” pada kisah tentara bayaran sedangkan warga Libya sendiri berkulit putih dan hitam?

Dalam sebuah surat terbuka untuk Al Jazeera yang diposkan di blog Sky, Soil & Everything In Between, KonWomyn khawatir melihat para penyiar memilih memberi gambaran singkat berupa “tentara bayaran dari Afrika”, bukannya menggali lebih dalam tentang siapa mereka sebenarnya, dan gambaran itu ditiru oleh media-media di seluruh dunia. [En, semua tautan]

Rasa takut merupakan alasan lain gambaran tersebut tersebar luas. Dalam sebuah komentar terhadap pos blog di Arabist.net tentang tentara bayaran di Libya, “Benedict” menulis:

… in a climate of fear and scarce information, rumours that violence is being carried out by shadowy outsiders often spread widely (e.g. the rumours of ‘Arabs’ beating protesters in Iran in 2009). Secondly, there are plenty of African migrants in Libya who may be seized as scapegoats by angry crowds, and there are also black Libyans, some of who may be members of the security forces.

Di tengah ketakutan dan simpang-siurnya informasi, isyu bahwa kekerasan dilakukan oleh orang asing yang tidak jelas sering menyebar luas (misalnya isyu tentang “orang-orang Arab” yang memukul demonstran di Iran tahun 2009). Kedua, ada banyak migran Afrika di Libya yang kemungkinan ditangkap sebagai kambing hitam oleh gerombolan yang mengamuk, dan ada juga warga Libya berkulit hitam, yang sebagian merupakan anggota pasukan keamanan.

Namun demikian, tentara bayaran yang telah tertangkap sejauh ini mencakup orang-orang dengan kartu identitas dari Tunisia, Nigeria dan Guinea (Conakry) dan Chad. Di Ghana ada isyu bahwa orang-orang di Akra ditawari hingga US$ 2.500 untuk bertarung demi Gaddafi. Dan di Ethiopia warga lokal dilaporkan telah disewa untuk bertarung. Berikut ini video tentang tersangka tentara bayaran yang ditangkap warga lokal di Al Barqa, Libya.

Peta Libya dan Laut Tengah

Peta Libya dan Laut Tengah

Tujuan: Libya

Bagi banyak orang di Afrika Sub-Sahara, Libya telah lama menjadi magnet tempat mencari pekerjaan dan juga pelabuhan transit bagi mereka yang ingin bermigrasi ke Eropa lewat Laut Tengah. Diperkirakan sekitar 1,5 juta orang dari sebelah selatan Gurun Sahara tinggal di Libya, bekerja terutama di bidang minyak dan konstruksi.

Gaddafi juga secara finansial dan politik terlibat dengan pemerintah-pemerintah Sub-Sahara. Militer Libya telah melatih beberapa kelompok pemberontak di masa lalu, dan juta telah merekrut tentara bayaran dalam beberapa kesempatan lalu.

Di masa awal pemerintahannya, Gaddafi, yang diberi panggilan akrab “Sang Pembimbing”, berusaha untuk menyatukan dan meng-Arab-kan bentangan lahan di sebelah selatan Gurun Sahara dengan mendesak migran muda dari berbagai tempat, mulai dari Sahel sampai Pakistan untuk bertempur dalam satu unit dalam peperangan di Chad, Uganda, Palestina, Libanon, dan Syria.

Serangan terhadap migran

Masalah yang segera muncul adalah penduduk Libya dari Afrika Sub-Sahara diserang hanya karena dituduh sebagai tentara bayaran. Di blog Ethiopian Review blog, beberapa orang berkomentar di sebuah pos tentang tentara bayaran Ethiopia dengan kecemasan bahwa pengungsi yang tidak bersalah menjadi target penyerangan massa.

Seorang komentator, “Ganamo”, menulis:

Some of those could be innocent refugees. During uprising in a mob mentality people most often do not differentiate well between criminals and innocent foreigners. I have to say this because I believe it from learning it through an experience. While revolution must go on we must be carefully to stand for refugees. Specially Ethiopians in Diaspora since their government cares only for their money and abandons them on their times of need, while other countries are evacuating their citizens. Where will Ethiopian Refugees in Libya go?

Beberapa dari mereka bisa jadi pengungsi yang tidak bersalah. Selama kerusuhan dalam mentalitas amukan massa orang cenderung tidak bisa membedakan antara kriminal dan orang asing yang tidak bersalah. Saya harus mengatakannya karena saya meyakininya setelah belajar dari pengalaman. Revolusi memang harus terus berlangsung, namun kita harus hati-hati untuk melindungi pengungsi. Terutama warga Ethiopia di negara asing karena pemerintah hanya peduli pada uang mereka dan mengabaikan mereka di saat mereka butuh bantuan, sementara negara-negara lain mengevakuasi warga mereka. Ke mana pengungsi Ethiopia di Libya akan pergi?

Beberapa blogger dan aktivis dari Afrika Sub-Sahara melihat isu tentara bayaran ini memberi peluang terhadap sikap chauvinistis warga Afrika Utara.

Di blog Myweku yang pan-Afrika, N Thompson menulis:

Africans in the main have been sympathetic and supportive of the desires of Tunisians and Egyptians in their protests. However, the African media and forums are beginning to ask if the prominence and publicity given to so called African mercenaries running amok amongst Libyan protesters pillaging and raping is beginning to tell a rather interesting story about the motives of some Libyan protesters.

On Sudan.net a question posted by a member of the forum – Is Libya racist? – has generated many emotional responses. Surely, isn’t the first rule of any revolution to garner as much international support from all quarters as possible?

Warga Afrika pada umumnya bersimpati dan mendukung keinginan warga Tunisia dan Mesir dalam protes mereka. Namun, media dan forum-forum Afrika mulai bertanya-tanya apakah penekanan dan publisitas terhadap yang disebut tentara bayaran Afrika merusuhi demonstran Libya menjarah dan memperkosa mulai menyingkapkan kisah yang menarik tentang motif sebagian demonstran Libya.

Di Sudan.net sebuah pertanyaan yang diposkan oleh seorang anggota forum – Apakah orang Libya rasis? – telah memicu banyak jawaban emosional. Bukankah aturan utama sebuah revolusi adalah mengumpulkan sebanyak mungkin dukungan internasional?

Pikiran tersebut disetujui oleh Tommy Miles di New York, yang menulis di blog Tomathan yang berfokus di Afrika Barat:

In all honesty, I support the people of Libya’s righteous anger against the brutal Gaddafi regime. It will not be going out on a limb at this point to say they will succeed, and that the entire region (including Tchad, Mali, & Niger) will be better off without Gaddafi’s almost constant destabilization of his African neighbors.

But like much of northern Africa, in Libya there is a long history of fear, hatred, and oppression based on skin color. There is a distinct minority of “black” Libyans whose slave origins mean they are still regarded with contempt by some, as there is a large number of political and economic refugees in what is a relatively prosperous state.

Sejujurnya saya mendukung warga Libya yang pantas marah menghadapi rezim Gaddafi yang brutal. Besar kemungkinan mereka akan berhasil, dan keseluruhan kawasan itu (termasuk Chad, Mali, dan Niger) akan lebih baik tanpa campur tangan Gaddafi terhadap tetangga-tetangga Afrikanya.

Namun seperti kebanyakan Afrika Utara, di Libya terdapat sejarah panjang ketakutan, kebencian, dan penindasan berdasarkan warna kulit. Di Libya terdapat minoritas yang berkulit hitam yang dahulunya budak dan masih dipandang hina oleh sebagian masyarakat, dan ada banyak pengungsi politis dan ekonomis di negara yang tergolong makmur.

Seorang komentator pos ini, dengan nama samaran “Arab”, tidak setuju:

A purely manufactured controversy. Libyans have also reported that there are European mercenaries and you conveniently forget that because it doesn’t suit your racism agenda. The point of making it known that they are African is identification, it has nothing to do with skin color (a classic case of projection of Western biases), but with identifying a threat (based on language, since “African” denotes a non-Arabic speaking person from the continent rather than a black person as you seem to think). Libyans are more than aware that there are Libyans killing them, after all fighter jets are not being flown by mercenaries nor is the elite army corps that is headed by Gaddafi’s son a foreign one. You would have served yourself better if at this time of great distress for the Libyan people, you remained silent until all the events are known, rather than push an agenda to insult people fighting and dying for their liberty based on nothing but speculation.

Kontroversi yang dibuat-buat. Warga Libya juga telah melaporkan bahwa ada tentara bayaran Eropa dan Anda mengabaikan itu karena tidak sesuai dengan agenda rasisme yang Anda ajukan. Menyatakan mereka orang Afrika hanyalah untuk tujuan identifikasi, dan tidak ada kaitannya dengan warna kulit (kasus klasik adaptasi bias Barat), namun dengan mengenali sebuah ancaman (berdasarkan bahasa, karena “orang Afrika” berarti orang dari benua Afrika yang tidak berbahasa Arab dan bukannya berkulit hitam seperti yang Anda pikir). Orang Libya sangat menyadari bahwa ada orang Libya yang membunuhi mereka, karena semua jet tempur tidak diterbangkan oleh tentara bayaran, dan korps militer elit yang dikepalai putra Gaddafi juga bukan warga asing. Anda akan lebih membantu jika di masa ketegangan ini Anda tetap diam hingga semuanya jelas, dan bukan memaksakan sebuah agenda untuk menghina orang yang sedang berjuang dan mati demi kebebasan mereka, tanpa berdasarkan apa-apa selain dugaan semata.

Warga Libya juga telah menunjukkan belas kasihan pada sebagian tentara bayaran yang tertangkap. Video ini menunjukkan lebih dari satu orang melindungi tersangka dari massa yang mengamuk. (Peringatan: Gambar-gambar ini brutal).

Seorang tentara bayaran muda dari Chad, mengaku dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Inggris The Telegraph, bahwa ia telah bertemu orang-orang yang mengatakan mereka akan menerbangkannya ke Tripoli di Libya untuk bekerja. Ternyata pesawat dialihkan ke Al-Bayda, di mana ia dan rekan-rekan seperjalanan diberi senjata dan diperintahkan untuk membunuh demonstran.

Blog Ridja dari negara kepulauan Komoro di Afrika, mengambil tema tersebut [Fr]:

Dans une vidéo postée sur YouTube, un homme noir, présenté comme un mercenaire, reconnaît avoir été recruté par Khamis, l'un des fils du Guide, pour massacrer le peuple. Aveu véritable ou tentative désespérée d'un pauvre diable de se sauver d'une foule qui menace de le lyncher? D'autres films sur Internet montrent les dépouilles de supposés soldats de fortune morts au combat. Les sites des Libyens en exil parlent eux aussi de ces soldats étrangers, évoquant les rumeurs les plus folles, comme des salaires de 30.000 dollars.

Dalam sebuah video yang diposkan di YouTUbe, seorang pria berkulit hitam, yang disebut seorang tentara bayaran, mengaku telah direkrut oleh Khamis, seorang putra Gaddafi, untuk membantai rakyat. Pengakuan yang jujur atau usaha putus-asa dari setan memelas untuk menyelamatkan diri dari massa yang mengancam untuk mengeroyoknya? Film-film lain di Internet menunjukkan badan dari tersangka tentara bayaran yang mati dalam pertempuran. Situs-situs warga Libya di pengasingan juga membahas tentara asing tersebut, mengacu pada isyu yang tidak masuk akal, dengan gaji 30 ribu dolar.

Vincent Harris dalam blog Colored Opinions yang menggali politik migrasi Afrika mengatakan bahwa para pemimpin Eropa juga patut disalahkan:

Europe has a heavy responsibility for the well-being of refugees in Libya. The reason I say this is obvious, European governments, like the Netherlands, helped Libya to create a buffer against subsaharan African immigrants to Europe. Who does not remember Gaddafi's recent visit to Italy? It seemed funny to see [Berlusconi] one of the most xenophobic presidents receive Gaddafi, but in reality the visit of Libyan president Gaddafi was in line with European policy to use Libya as buffer to counter immigration.

Eropa memiliki tanggung jawab besar terhadap hajat hidup para pengungsi Libya. Alasannya jelas, pemerintah Eropa, seperti Belanda, membantu Libya membangun penyangga untuk menahan imigrasi penduduk Afrika Sub-Sahara ke Eropa. Siapa yang lupa kunjungan Gaddafi baru-baru ini ke Italia? Kelihatannya aneh melihat [Berlusconi] salah satu presiden yang paling anti-asing menerima Gaddafi, namun pada kenyataannya kunjungan presiden Libya Gaddafi sesuai dengan kebijakan Eropa untuk menggunakan Libya sebagai penyangga melawan imigrasi.

Yang dikhawatirkan banyak pihak adalah bahwa masalah tentara bayaran itu mungkin baru permulaan. Dari blog the Arabist:

… if the regime suddenly collapses, how will the successors of the regime deal with several thousand heavily armed and unpaid mercenaries in Libya’s major cities?

…jika rezim [Gaddafi] tiba-tiba runtuh, bagaimana penggantinya menangani ribuan tentara bayaran yang dipersenjatai tetapi belum dibayar di kota-kota utama Libya?

Pos ini merupakan bagian dari liputan khusus kami Gejolak di Libya 2011 [En].

Mulai Percakapan

Relawan, harap log masuk »

Petunjuk Baku

  • Seluruh komen terlebih dahulu ditelaah. Mohon tidak mengirim komentar lebih dari satu kali untuk menghindari diblok sebagai spam.
  • Harap hormati pengguna lain. Komentar yang tidak menunjukan tenggang rasa, menyinggung isu SARA, maupun dimaksudkan untuk menyerang pengguna lain akan ditolak.