Film dokumenter untuk penonton terbatas: wawancara dengan Rajan Kathet, sutradara film dari Nepal

Tangkapan layar dari film dokumenter Rajan Kathet “No Winter Holidays”, dari TIDF YouTube channel.

Ketika industri film fiksi di Nepal semakin berkembang, kondisi yang berbeda dialami oleh film dokumenter, yang tetap kecil dan tidak terlalu dikenal. Salah satu dari sedikit festival yang memutar film-film dokumenter adalah Kathmandu International Mountain Film (Kimff) yang menampilkan film dan karya dokumenter dengan fokus yang kuat pada kehidupan pegunungan dan petualangan, dan juga tentang perubahan iklim dan kehidupan masyarakat di pedesaan. Untuk edisi 2024, ada sekitar 20 film yang ditayangkan dari sekitar selusin negara peserta.

Tapi bagaimana kehidupan pembuat film dokumentasi diluar acara tahunan tersebut?Untuk mendengar tentang tantangan dan juga kesenangan mengenai profesi tersebut di Nepal. Global Voices berbincang dengan Rajan Kathet, seorang pembuat film yang tinggal di Kathmandu, membuat baik film fiksi maupun dokumenter. Kathet merupakan alumni dari berbagai program pelatihan pembuatan film, termasuk diantaranya European Masters DOCNOMADS, Berlinale Talents dan Global Media Makers

Wawancara dilakukan melalui email setelah percakapan tatap muka di Kathmandu.

Rajan Khatet,  koleksi pribadi, digunakan seijin pemilik.

Filip Noubel (FN): Apa tantangan utama menjadi pembuat film dokumenter di Nepal?

Rajan Kathet (RK): .Tantangan utama bagi pembuat film dokumenter di Nepal adalah pendanaan dan akses ke pasar, Sebagian besar film yang diproduksi di Nepal adalah fiksi, sehingga banyak penyandang dana, distributor dan produser fokus di genre ini. Dukungan dari pemerintah hampir tidak ada, termasuk tidak adanya tempat untuk pemutaran film di dalam negeri, yang memaksa para pembuat film untuk mencari kesempatan di luar negeri.

Memang ada pemutaran dengan donasi atau layar yang disediakan oleh beberapa bioskop secara terbatas, tapi hal tersbut tidak menjamin keamanan finansial dan hanya dilakukan sebagai sebuah gestur simbolik dibandingkan sumber pemasukan. Saluran televisi di Nepal bukan tipikal pembeli film dokumenter, pembuat film seringkali harus membeli waktu siar atau mencari sponsor komersial untuk menutup biaya. Konsekuensinya, memulai dan menyelesaikan sebuah film dokumenter di Nepal adalah pekerjaan yang penuh tantangan, seringkali memerlukan kolaborasi dengan produser internasional untuk mengakses hibah dari Eropa atau Amerika

FN:  Adakah tempat dan festival di Asia yang memungkinkan untuk menayangkan film yang Anda buat dan bertemu dengan orang-orang yang tertarik di bidang yang sama?

RK: Selama dua dekade terakhir, Korea Selatan telah menjadi tujuan utama bagi pembuat film Nepal untuk mencari dukungan dana dan penayangan perdana yang bergengsi, baik di tingkat Asia  maupun dunia. Busan International Film Festival menjadi prioritas utama, terutama bagi pembuat film fiksi, karena kayanya forum diskusi dan juga pasar yang ditawarkan, sebagai tempat untuk mengembangkan bakat pembuat film di Asia. Dalam beberapa tahun terakhir ini, pembuat film Nepal telah mengembangkan tujuan mereka ke festival lain di Asia, seperti Jepang, Hong Kong, Taiwan, India, Singapura dan beberapa lokasi lain.

Film dokumenter panjang pertama saya, “No Winter Holidays” mendapatkan bantuan keuangan dari DMZ Docs di Korea Selatan, sekaligus menjadi tempat tayang perdana untuk wilayah Asia. Film ini menuai sukses di beberapa festival film India seperti Dharamshala IFF, MIFF Mumbai, Kolkata IFF dan Kolkata People's Film Festiwal, dan baru-baru ini ditayangkan di Taiwan International Documentary Film Festival (TIDF) dan Golden Apricot International Film Festival di Armenia.

Film tersebut memenangkan Film Dokumenter terbaik pada Nepal Human Rights International Film Festival yang diadakan pada Desember 2023. Berikut ini cuplikan dari film tersebut yang mengambarkan dua janda di pedesaan Nepal yang menghadapi diskriminasi tradisional karena gender, kasta dan status sosial mereka:

Untuk mengetahui lebih jauh soal TIDF, dapat dibaca melalui artikel berikut: Taiwan International Documentary Festival honors Myanmar filmmakers

FN:  Anda juga berkolaborasi dengan tim dari Taiwan untuk film dokumenter. Bisa diceritakan tentang kerja sama tersebut?

RK: Setelah pandemi COVID-19, saya berkoordinasi dengan rumah produksi Nepal untuk menayangkan film dokumenter panjang Taiwan yang berjudul “After the Snowmelt” ( 雪水消融的季節), dengan Lo Yishan (羅苡珊) sebagai sutradaranya. Dokumenter pribadi ini dibuat Yishan untuk menelusuri perjalanan terakhir temannya yang secara tragis harus kehilangan nyawa karena kecelakaan akibat cuasa di Nepal. Dikarenakan pembatasan perjalanan, sutradara dan timnya hanya berhasil melakukan perjalanan kedua, dari dua perjalanan yang dijadwalkan ke Nepal. Untuk jadwal pertama, terjadi tidak lama setelah pandemi, saya dan tim dari Salpa film menangani proses syuting, Pada jadwal kedua, saya mendampingi tim Yishan dengan mempersiapkan logistik, perijinan dan dukungan penting lainnya. Film ini diputar perdana pada bulan April 2024 di Visions du Réel dan kini sedang diputar di berbagai festival film.

( 雪水消融的季節)Berikut ini trailer untuk film Lo Yishan

FN:  Apa proyek terkini yang sedang dikerjakan dan bagaimana Anda melihat karir Anda berkembang di masa mendatang?

RK: Saat ini saya sedang mengerjakan beberapa proyek. Saya menulis skenario film fiksi pendek berjudul “Oxigen“, yang mengeksplorasi hubungan ayah-anak lelaki setelah Covid-19 pandemi. Selain itu, saya sedang melakukan riset dan mengembangkan sebuah dokumenter tentang diskriminasi sosial berbasis kasta di Nepal, sebuah proyek yang pernah dipresentasikan pada Doc Station of Berlinale Talents dan Docedge di Kalkuta awal tahun ini. Saya juga sedang terlibat dalam sebuah dokumenter untuk televisi, kolaborasi dengan pembuat film India. Di film ini saya berperan sebagai produser untuk seri dokumenter televisi yang berjudul “A Himalayan Endgame,” yang kini sudah memasuki proses paska produksi.

Beberapa tahun yang lalu, bertahan sebagai sutradara film memang berat, tapi akhir-akhir ini, kondisinya lebih stabil. Menjalin hubungan dengan pembuat film internasional, yang akhirnya berbuah beberapa kolaborasi, yang membuat saya tetap memiliki pekerjaan, dan hasilnya membuat saya tetap bisa mengembangkan project tanpa terlalu terhambat pada masalah finansial. Dalam beberapa tahun ke depan, saya bisa memproyeksikan diri sendiri untuk mendistribusikan film semi pendek, sambil mencari dana untuk membuat film fiksi panjang.

FN:  Kapan “No Winter Holidays” tayang di Nepal, dan bagaimana reaksi penonton?

RK:No Winter Holidays” (Dhorpatan dalam bahasa Nepal) pertama kali ditayangkan pada Nepal Human Rights International Film Festival pada 2023, dan memenangkan Film terbaik di festival tersebut. Setelah festival, film tersebut mendapat perhatian internasional karena sukses mengikuti beberapa festival dan berbagai penghargaan, kami memutuskan untuk mengadakan pemutaran di bioskop di Kathmandu. Pemutaran berlangsung selama seminggu, dengan jadwal satu pemutaran di satu theater, sambutan penonton melebihi harapan kami.

Berkat dukungan kuat dari penonton dan media, penayangan film akhirnya diperpanjang hingga satu belum. sebuah fenomena yang menarik untuk film dokumenter di Nepal, ketika penonton tidak terbiasa menyaksikan film jenis ini di luar festival. Kebanyakan film dokumenter dibuat oleh lembaga swadaya atau film untuk meningkatkan kesadaran untuk satu isu; sehingga film ini menawarkan perubahan yang menyegarkan. Walaupun promosi yang minim, film ini dibicarakan dari mulut ke mulut dan review media yang positif membuat film ini bertahan di bioskop hingga sebulan penuh.

FN: Seberapa sering kehidupan sehari-hari masyarakat di pedesaan, yang jauh dari Kathmandu, ditampilkan di film Nepal arus utama atau serial televisi?

RK: Biarpun cukup banyak film yang membahas tentang kehidupan pedesaan di Nepal, hanya saja apa yang digambarkan dalam media dan film tidak bervariasi. Kebanyaknan film menggambarkan wilayah yang tidak jauh dari Kathmandu atau destinasi turis populer, Padahal, ada wilayah terpencil yang jarang mendapat perhatian negara, media dan pembuat film, karena sulit dijangkau. Hasilnya, penggambaran kehidupan pedesaan di film-film Nepal cenderung sempit, seragam dan tidak ada usaha untuk menggambarkan keragaman, situasi dan keragaman berbagai wilayah.

Mulai Percakapan

Relawan, harap log masuk »

Petunjuk Baku

  • Seluruh komen terlebih dahulu ditelaah. Mohon tidak mengirim komentar lebih dari satu kali untuk menghindari diblok sebagai spam.
  • Harap hormati pengguna lain. Komentar yang tidak menunjukan tenggang rasa, menyinggung isu SARA, maupun dimaksudkan untuk menyerang pengguna lain akan ditolak.