Simpan bahasa-bahasa tersebut? Kami menerjenahkan kisah-kisah Global Voices agar media warga global dapat dinikmati semua orang.

Kenali lebih lanjut Terjemahan Lingua  »

Imam Muslim Menjelaskan Apa Rasanya Menjadi Orang Amerika Saat Ini

A Muslim man praying in front of the White House in Washington DC. Photo taken in April 2013 by Flickr user Elvert Barnes.

Seorang Muslimin berdoa di depan Gedung Putih di Washington DC. Foto diambil pada April 2013 oleh pengguna Flickr Elvert Barnes. CC 2.0.

Pada malam sebelum Hari Kemerdekaan Amerika Serikat, Khalid Latif, direktur eksekutif dan imam untuk Pusat Agama Islam di New York University (NYU), membagikan sebuah catatan mengharukan di Facebook dan video live yang menjabarkan perasaannya untuk menjadi penganut Islam di Amerika.

Videonya, yang telah tayang lebih dari 161.000 kali, muncul saat retorika Islamofobia politis sedang tnggi-tingginya, kejahatan berlandaskan kebencian terhadap warga Muslim-Amerika meningkat, dan spionase atas komunitas Muslim dan masjid-masjid dianggap normal.

Pagi ini saya menyaksikan berbagai foto dan laporan pandangan mata yang menggaris bawahi sejumlah aksi berlandaskan kebencian terhadap warga Muslim di berbagai kota di Amerika dalam kurun waktu 10 jam  terakhir. Dua remaja Muslim diserang di depan sebuah Masjid di Brooklyn, New York, si penyerang memanggil mereka “teroris”, seorang dokter Muslim disergap dan ditembak di Houston, Texas oleh tiga pria saat dia berangkat menunaikan shalat subuh, dan seorang Muslim lainnya dipukuli di Fort Pierce, Florida tepat di luar Pusat Agama Islam disana. Semua itu saja dilaporkan kemarin. Banyak kasus serupa selama beberapa bulan belakangan, dan banyak lagi yang tidak dilaporkan.

Apabila anda menyaksikan sesuatu katakanlah, maka hal itu dapat menjadi makna bagi kita saat ini. Bila anda melihat aksi intoleransi, jangan diam. Bila anda menyaksikan aksi kebencian, jangan diam. Bila anda meilhat perwujudan rasisme, jangan diam. Kita semua harus menjadi agen perubahan yang dibutuhkan dunia ini.

[…]

Amat sangat mungkin, politisi tidak akan mengecam aksi-aksi tersebut. Islam akan terus dimanfaatkan sebagai sepak bola politik oleh mereka yang tidak memiliki kepentingan sejati selain kepentingan pribadi mereka. Pembiaran bukanlah solusi memutuskan rantai aksi kebencian, tapi sepertinya tidak ada yang mempermasalahkan hal itu.

Popularitas Khalid Latif tidak hanya ada di komunitas NYU, halaman Facebooknya mempunyai 122.042 likes dan pengagumnya ada di seluruh dunia. Dia sering berbicara tentang permasalahan etnis dan menunjukan dukungannya atas komunitas-komunitas marjinal di AS.

Jika menurut Anda amarah dan rasa frustrasi saya semata-mata muncul akibat banyaknya serangan terhadap kaum Muslim, maka Anda tidak paham permasalahan sebenarnya. Perasaan yang muncul dalam diri saya muncul karena saya melihat manusia sebagai manusia. Saya merasa tergerak terhadap korban-korban ini sama seperti saya bersimpati terhadap korban-korban dalam serangan Orlando. Saya merasa tergerak, sama seperti saya tergerak atas peristiwa Baltimore, Ferguson dan Chicago. Saya merasa tergerak, sama seperti saya merasa tergerak atas apa yang terjadi di Turki, Bangladesh, Irak dan Suriah. Saya tergerak atas apa yang menimpa mereka, selayaknya saya tergerak atas siapapun yang terimbas derita. Kita menyaksikan kelompok-kelompok minoritas dari berbagai latar belakang secara terus menerus dikambing hitamkan, dan kita telah tiba di titik dimana serangan dan bahkan kematian tidak lagi memanusiakan mereka. Kita menyaksikan penembakan yang semakin sering terjadi, berbanding lurus dengan meningkatnya keengganan legislator kita menentang pembatasan peredaran senjata. Kemarahan dan rasa frustrasi bercabang dari kenyataan aksi kebencian terus muncul dan kegagalan kita menyikapinya, apatisme semakin hidup dan disaat bersamaan prikemanusiaan kita perlahan-lahan mati.

Latif's Facebook profile picture. Photo credit: Priya Chandra.

Gambar profil Latif di Facebook Foto credit: Priya Chandra.

Latif adalah imam Muslim pertama yang ditahbiskan di NYU. Dua tahun kemudian, di 2007, Walikota New York Michael Bloomberg mencalonkannya menjadi imam termuda dalam sejarah Departemen Kepolisian di New York City. Saat itu dia berusiia 24 tahun.

Saya Muslim. Saya berkerja sebagai Imam Kampus untuk New York University. Saya juga melayani sebagai Imam untuk Departemen Kepolisian di New York City dimana saya dipercayakan jabatan inspektur.

Saya telah dipercayakan mewakili Departemen Luar Negeri, berjumpa dengan para pemuka Departemen Keamanan Dalam Negeri, pejabat-pejabat senior Gedung Putih, dan juga Presiden Obama, saya juga bertukar pikiran dengan orang-orang seperti Paus Fransiskus dan Dalai Lama. Meski demikian, akibat identitas saya, saya pernah ditahan, dicurigai atas dasar SARA, dan dimata-matai. Rumah saya pernah beberapa kali didatangi oleh FBI, beberapa kali mereka melabel saya “too good to be true.”

Sebelum saya dilihat sebagai penangkal, saya diperlakukan seperti racun, semata-mata karena keyakinan yang saya anut. Ini memprihatinkan. Tapi saya percaya bahwa kita semua bisa dan mampu menjadi lebih baik dari hari ini.

Kesembuhan memerlukan pengakuan bahwa kita sedang sakit. Anda dan saya adalah bagian dari penangkal racun yang lebih kuat dari yang kita sadari. Di malam sebelum Hari Kemerdekaan, kita sebagai satu bangsa mempunyai pilihan. Pada saat kita masih berdebat tentang pentingnya Black Lives Matter, para calon pemimpin kita sedang memberikan pernyataan kesiapan mereka mewakili dan memegang mandat warga Amerika terpilih. Kita tidak boleh membiarkan persepsi kita terhadap sesama kita diolah oleh mesin media yang memiliki tujuan untuk mensensionaliskan dan membombardir pembaca dan pemirsa dengan narasi yang ditujukan untuk segmen tertentu dan memperburuk muka dan menjeleki yang lain. Suara-suara ekstrem harus kita redamkan dengan kebersatuan kita. Ketidaktahuan ISIS atau hak Republik tidak bisa lagi menjadi dasar dari bagaimana kita berfungsi dalam masyarakat yang beragam. Kita harus belajar pada realita perjuangan yang dihadapi oleh orang-orang di sekitar ktia dengan benar-benar berpadu dengan mereka, alih-alih merengkuh gambar-gambar bias yang ditampilkan pada kita setiap harinya. Kita tidak harus menjadi perempuan untuk memperjuangkan hak-hak perempuan, berkulit hitam untuk memperjuangkan hak-hak kelompok kulit hitam, dan Muslim untuk memperjuangkan hak-hak warga Muslim. Serangan yang terjadi atas salah satu kita, adalah serangan terhadap setiap kita. Saya akan ulangi apa yang pernah saya katakan sebelumnya. Apabila anda menyaksikan sesuatu katakanlah, maka hal itu dapat menjadi makna bagi kita saat ini. Bila anda melihat aksi intoleransi, jangan diam. Bila anda menyaksikan aksi kebencian, jangan diam. Bila anda meilhat perwujudan rasisme, jangan diam. Kita semua harus menjadi agen perubahan yang dibutuhkan dunia ini. Kita tidak bisa menjadi pahit atau pasif, karena orang-orang egois akan sukses menguntungkan diri mereka sendiri. Janganlah hilang harapan – besok pasti akan lebih baik bila kita semua melakukan tugas kita masing-masing. Kesatuan kita hari ini hanya akan berarti apabila kita seterusnya bersatu. Mari menjadi alasan bagi banyak orang yang memerlukan harapan di dunia ini, dan jangan menjadi alasan orang takut akan dunia ini.

Mulai Percakapan

Relawan, harap log masuk »

Petunjuk Baku

  • Seluruh komen terlebih dahulu ditelaah. Mohon tidak mengirim komentar lebih dari satu kali untuk menghindari diblok sebagai spam.
  • Harap hormati pengguna lain. Komentar yang tidak menunjukan tenggang rasa, menyinggung isu SARA, maupun dimaksudkan untuk menyerang pengguna lain akan ditolak.