Simpan bahasa-bahasa tersebut? Kami menerjenahkan kisah-kisah Global Voices agar media warga global dapat dinikmati semua orang.

Kenali lebih lanjut Terjemahan Lingua  »

Flotilla III Menuju Gaza Diperkirakan Berlabuh di Daerah Kantung Palestina saat Fajar; Israel Mengancam Akan Menghentikannya

The Gaza-bound Marianne in 170 miles away from the Palestinian enclave and is expected to dock at dawn. Photo credit: @rumboagaza on Twitter

Kapal Marianne yang menuju ke Gaza berada 170 mil dari daerah kantung Palestina dan diperkirakan akan berlabuh saat fajar.
Kredit foto: @rumboagaza di Twitter

Freedom Flotilla berada sekitar 170 mil dari Gaza dan diperkirakan akan berlabuh saat fajar di daerah kantung Palestina yang dikepung. Mungkin perjalanan ini tidak akan mulus karena Israel bersiap untuk “mengambil alih” kapal-kapal tersebut.

Armada tersebut, dengan upaya ketiga untuk membobol pengepungan di Gaza, terdiri dari Marianne of Gothenburg dan tiga kapal lain yang mengikuti perlahan, dan membawa 50 aktivis, termasuk mantan Perdana Menteri Tunisia, Moncef Marzouki . Perjalanan ini menandai masa lima tahun setelah penyerbuan Israel terhadap Kapal MV Mavi Marmara yang mengakibatkan sembilan aktivis tewas dan 10 tentara Israel terluka.

Simak Liputan Khusus kami tentang Penyerangan Flotilla oleh Israel 2010

Marianne of Gothenburg, yang diperoleh bersama oleh Ship to Gaza [Kapal ke Gaza] Swedia dan Ship to Gaza [Kapal ke Gaza] Norwegia, yang meninggalkan pelabuhan asalnya di Swedia pada tanggal 10 Mei, adalah kapal pertama dari tiga kapal yang akan berangkat untuk berusaha membobol blokade Israel di Gaza. Dalam siaran pers yang diterbitkan pada tanggal 10 Mei, kelompok Marianne of Gothenburg menyatakan bahwa kapal itu “akan bergabung dengan kapal-kapal lain untuk membentuk ‘Freedom Flotilla III’, sebuah aksi damai tanpa kekerasan untuk membobol blokade ilegal dan tidak manusia di Jalur Gaza.”

Di Twitter, banyak yang memberi dukungan dengan tagar #SaveFlotilla3 [Selamatkan Flotilla 3] dan terjemahannya dalam Bahasa Arab. Namun tampaknya, armada tersebut tidak akan mengalami perjalanan yang mulus.

Dr. Belal Dabour dari Gaza memperingatkan bahwa beberapa jam mendatang akan menentukan:

Kapal Freedom Flotilla, Marian [Marianne], mencapai Gaza saat fajar. Israel mengatakan mereka tidak akan memberi izin; beberapa jam mendatang akan menentukan.

Dr. Ramy Abdu melaporkan bahwa tiga kapal, yang mengidentifikasikan diri mereka sebagai militer Israel, membuntuti Marianne:

Marianne menelepon pukul 01.06 CET: [Ada] tiga kapal, yang terdekat berjarak 500 meter. Mereka mengidentifikasikan diri sebagai militer Israel.
#NextPortGaza [Pelabuhan Berikutnya: Gaza]

Jason Shawa mengumumkan bahwa komunikasi dengan Marianne telah terhenti.

Melaporkan bahwa kontak dengan Marianne dari Flotilla 3 telah terhenti atau terputus!
#SaveFreedomFlotilla [Selamatkan Freedom Flotilla]
#SaveFlotilla3 [Selamatkan Flotilla 3]

Dr. Dabour membenarkan:

Sambungan dengan Kapal Marianne dilaporkan terhenti. Pesan terakhir mengatakan bahwa tiga kapal perang Israel mengganggu kapal tersebut dari jarak dekat.

Namun, yang lain mengumpulkan dukungan untuk menghalangi Israel menyerang armada tersebut:

Telepon @WhiteHouse [Gedung Putih] (001-202-456-1111) sekarang dan minta mereka mencegah Israel menyerang #FreedomFlotilla III ke #Gaza

Muhammad Usman membagi foto anak-anak Palestina yang menunggu armada tersebut:

Anak-anak Palestina di #Gaza sedang menunggu Freedom flotilla 3 di pelabuhan laut Gaza! #SaveFlotilla3 [Selamatkan Flotilla 3]

Juga dari Gaza, Najla menawarkan doa:

#SaveFlotilla3 [Selamatkan Flotilla 3]
Flotilla sedang dalam perjalanan ke #gaza untuk membobol pengepungan [Gaza]. Mari kita berdoa agar mereka tidak terluka.

Banyak aktivitas yang direncanakan di Gaza untuk mengantisipasi kedatangan Freedom Flotilla, seperti “Gaza Ark Exhibition” [Pameran Bahtera Gaza], yaitu pameran produk-produk Palestina yang diharapkan akan diekspor oleh Freedom Flotilla III. Dalam sebuah pernyataan formal tertanggal 5 Juni, mereka menjelaskan:

When Gaza's Ark was destroyed during last year’s attack on Gaza by Israel, we all lost a boat intended to break the blockade “from the inside out”. But our goal of helping to build a sovereign Palestinian economy based on freedom of movement has not changed. Palestinian products from both Gaza and the West Bank were to be exported not only as a symbolic stimulus to the Palestinian economy but to show the world the industrious work of craftspeople and farmers who continue to struggle against the overwhelming odds of occupation, economic strangulation and war.

Ketika Gaza's Ark [Bahtera Gaza] dihancurkan selama penyerangan di Gaza oleh Israel tahun lalu, kita semua kehilangan sebuah kapal yang bertujuan untuk membobol blokade tersebut.

Namun cita-cita kami untuk membantu membangun perekonomian Palestina yang berdaulat, berdasarkan kebebasan untuk melakukan pergerakan, belum berubah.

Produk-produk Palestina, baik dari Gaza dan Tepi Barat, akan diekspor bukan hanya sebagai pendorong simbolis terhadap perekonomian Palestina, melainkan untuk menunjukkan kepada dunia, karya para pengrajin dan petani yang terus berjuang melawan besarnya kemungkinan penjajahan, “pencekikan” ekonomi, dan perang.

Sameera Qarmout, anggota salah satu organisasi produsen pada pameran tersebut, mengungkapkan harapannya bahwa ia akan dapat menjual produk-produknya kali ini:

Before it was attacked, we had the hope that our embroideries would be exported aboard Gaza's Ark. The coming Freedom Flotilla III has given us a light of new hope that our products will still be made available to world markets.

Sebelum [kapal itu] diserang, kami berharap sulaman kami akan diekspor dengan Gaza's Ark [Bahtera Gaza]. Kedatangan Freedom Fortilla III telah memberi kami secercah harapan baru bahwa produk-produk kami akan tetap tersedia di pasar dunia.

Pameran tersebut termasuk produk-produk dari produsen-produsen Palestina di Gaza serta produk-produk dari produsen-produsen di Tepi Barat yang sampai ke Gaza walaupun ada larangan Penjajah Israel: sulaman, ukiran kayu, dan minyak zaitun.

Telah ada beberapa upaya untuk membobol pengepungan di Gaza antara tahun 2008 dan 2010, dan peserta di kapal-kapal tersebut antara lain adalah penerima Nobel Perdamaian 1976, Mairead Corrigan, anggota Dewan Legislatif Palestina, Mustafa Barghouti, aktivis perdamaian Irlandia, Caoimhe Butterly, anggota Kongres Amerika Serikat, Cynthia McKinney, penulis Alice Walker, penyintas Holokaus, Hedy Epstein, serta jurnalis-jurnalis dan dokter-dokter internasional dan beberapa anggota parlemen EU [Uni Eropa] dari berbagai partai politik.

Upaya ini akan menandai masa lima tahun sejak penyerbuan Israel yang mematikan terhadap Kapal Mavi Marmara pada tahun 2010. Penyerbuan itu mengakibatkan kematian sembilan aktivis dari Free Gaza Movement [Gerakan Bebaskan Gaza] dan Yayasan Hak Asasi Manusia, Kebebasan, dan Bantuan Kemanusiaan Turki (IHH). Beberapa anggota Flotilla saat ini, seperti Kevin Knish, ada di Kapal Mavi Marmara waktu itu.

Koalisi ini memberi kabar terkini tentang posisi mereka melalui akun Twitter dan laman Facebook mereka serta di situs web resmi mereka. Anda juga dapat mengikuti berita terbaru kami di Global Voices Checkdesk.

Mulai Percakapan

Relawan, harap log masuk »

Petunjuk Baku

  • Seluruh komen terlebih dahulu ditelaah. Mohon tidak mengirim komentar lebih dari satu kali untuk menghindari diblok sebagai spam.
  • Harap hormati pengguna lain. Komentar yang tidak menunjukan tenggang rasa, menyinggung isu SARA, maupun dimaksudkan untuk menyerang pengguna lain akan ditolak.