Simpan bahasa-bahasa tersebut? Kami menerjenahkan kisah-kisah Global Voices agar media warga global dapat dinikmati semua orang.

Kenali lebih lanjut Terjemahan Lingua  »

Beberapa Grup Sayap-Kanan India Miskin Cinta Di Hari Valentine Tahun ini

Hindu Sena Activist Protest in New Delhi Against Valentine's Day. Image by Arjun Panwar. Copyright Demotix (12/2/2015)

Protes Aktivis Hindu Sena di New Delhi menentang Hari Valentine. Photo oleh Arjun Panwar. Hak Cipta Demotix (12/2/2015)

Hari Valentine telah menjadi semakin populer dalam  lebih dari dua dekade terakhir di india, sebuah tren yang membuat gusar beberapa kelompok di negara tersebut, yang telah bertekad untuk meredam perayaan cinta dan romantisme ala Barat.

Tahun ini,  Hindu Mahasabha, sebuah partai politik nasionalis Hindu Sayap Kanan, telah mengumumkan bahwa di kota Meerut,  mereka akan memaksa pasangan yang tertangkap saling mengucapkan “I love you” di tempat umum atau di media sosial, dan mereka akan dipaksa menikah dalam sebuah pernikahan Arya Samaj. Apabila pasangan tersebut memiliki agama yang berbeda maka akan diharuskan untuk melalui suatu prosesi pemurnian secara agama, ancam mereka.

Serupa dengan aksi tersebut, grup politik Kalinga Sena di wilayah Odisha, mengumumkan bahwa mereka akan berpatroli di ruang-ruang publik, merekam pasangan yang berbuat vulgar dan mengirimkan video ke orangtua mereka. Rupanya menikahkan secara paksa para pasangan yang berpacaran termasuk dalam rencana Hari Valentine mereka.

Banyak yang mengutuk niat grup-grup tersebut untuk merambah media sosial sebagai pelanggaran atas kebebasan personal dan pelanggaran privasi. Aktivis organisasi Jhatkaa mengajak orang-orang untuk menandatangani petisi di Twitter:

Hindu Mahasabha ingin menghukum pasangan-pasangan yang merayakanHari Valentine! Tandatangani petisi menentang Polisi Moral

Sayangnya, polisi moral bukanlah hal baru bagi India. Dalam satu kasus yang terkenal di tahun 2009, grup sayap-kanan Sri Rama Sene menyerang wanita wanita muda di sebuah pub di kota Mysore. Untuk memprotes kekerasan tersebut, sebuah kampanye bernama “Pink Chaddi campaign” (kampanye pakaian dalam pink) diluncurkan dan menjadi viral sehingga banyak orang mengirim pakaian dalam berwarna pink ke kantor Sri Rama Sene.

Lelucon-lelucon di internet yang mengolok-olok pengumuman kedua grup tersebut telah muncul di media sosial. Salah satunya menginterpretasikan bahwa rencana dari Hindu Mahasabha dan Kalinga Sena adalah sebuah bentuk dukungan terhadap hak-hak kaum LGBT (perkawinan gay dilarang di India):

Pasangan-pasangan gay gembira setelah Hindu Mahasabha mengumumkan pernikahan di Hari Valentine

 

If I express my love for a girl on Valentine's day, will we still get married? Does this mean #HinduMahasabha supports LGBT?

— Srishti Sharma (@srishti597) February 10, 2015

Kalau saya mengekspresikan cinta ke seorang gadis pada Hari Valentine, apakah kami tetap akan dinikahkan? Apakah ini berarti Hindu Mahasabha mendukung LGBT?

Yang lainnya menggunakan berita tersebut sebagai inspirasi untuk meme lucu Internet:

ROFL #ValentinesDay#HinduMahasabhapic.twitter.com/OEsof9Q4eA

— Faheem (@stoppression) February 8, 2015

Hindu Mahasabha didirikan pada tahun 1914 untuk mengadvokasi suatu bentuk negara Hindu dan ideologi nasionalis Hindu yang disebut Hindutva. Pada tahun 1948, anggota-anggota partai tersebut terlibat dalam pembunuhan Mahatma Gandhi, dan tidak lama setelah itu, figur pemimpin Hindu Mahasabha: Shyama Prasad Mookerjee meninggalkan partai untuk membentuk partai Bharatiya Janata Party (lebih dikenal dengan BJP) yang kini berkuasa di India.

Sedangkan Kalinga Sena, berkeinginan untuk menggabungkan beberapa wilayah yang berbahasa Odia yang terletak di kerajaan Kalinga yang terpecah sewaktu kemerdekaan India, dan menganjurkan bahasa, kebudayaan, pusaka, dan masalah-masalah umum negara.

Kedua partai tidak terlalu berpengaruh dalam politik India saat ini.

Disamping dari ancaman polisi moral, Hindu Mahasabha, Sri Rama Sene, dan dua partai hindu sayap kanan telah memprotes Hari Valentine di kota Mangalore pada tanggal 8 Februari, menuntut dicekalnya hari perayaan tersebut.

Dalam sebuat pos berjudul “Ya, ya, tolong sekalian atur bulan madu saya!” jurnalis dan blogger Piyush Rai mendebat dengan sarkastik dengan menyatakan bahwa Hindu Mahasabha mendukung pernikahan antar kasta, yang secara tradisi dikecam di  India, dengan pengumumannya:

Of all those tragic love stories and heart-broken youngsters who never got support of their family, I am sure Hindu Mahasabha will be a one stop solution, at least on Valentines's Day.

Dari semua kisah cinta tragis dan patah hati kaum muda yang tidak pernah mendapatkan dukungan dari keluarga, saya yakin Hindu Mahasabha akan menjadi solusi satu pintu, paling tidak karena adanya Hari Valentine.

Jurnalis Debashis Tripathy membandingkan upaya pelanggaran privasi oleh Kalinga Sena dengan Hindu Mahasabha:

Kalinga Sena to videotape couples seen together on Valentine Day & send clippings to their parents. Now beat that, Hindu Maha Sabha! #Odisha

— Debashis Tripathy (@deba1602) February 5, 2015

Kalinga Sena merekam pasangan-pasangan yang bersama di Hari Valentine dan mengirim video klip ke orangtua mereka. Coba ungguli itu, Hindu Maha Sabha!

Penulis dan komentator Sameera Khan menunjukkan bahwa tindakan Hindu Mahasabha sebagai tindakan yang mencegah kaum wanita untuk mengakses ruang publik:

It’s when women want to access public space for pleasure, to wander around, sit on a park bench and read, or hang out with a boyfriend, or as we say, to loiter, that is when Indian society is not okay with it.

Adalah saat dimana wanita ingin mengakses ruang publik untuk kesenangan, berjalan-jalan, duduk di bangku taman dan membaca, atau nongkrong bersama pacar, atau seperti yang kita sebut, berkeliaran, dan pada itulah saat-saat yang ditentang  masyarakat India.

Beberapa pihak telah menuntut agar Perdana Menteri India Narendra Modi memberikan pernyataan dan menghentikan Hindu Mahasabha. Modi sejauh ini belum memberikan pernyataan, dan Hindu Mahasabha belum merilis pernyataan lanjutan sejak mereka mengumumkan rencana Hari Valentine.

#HinduMahasabha is nothing but a bunch of goons masquerading under the garb of protecting Hinduism, BJP should distance themselves from them

— Shanks (@vermashanks) February 10, 2015

Hindu Mahasabha adalah sekelompok preman yang berlagak melidungi Hinduisme, BJP seharusnya menjauhkan diri dari mereka

 

The Silence Of #Modi will be repaid after 5 years #HinduMahasabha to install #Godse statue in temples -http://t.co/ZjNSep8Li7

— FreedomFighterz (@PuliArason) January 31, 2015

Kebisuan Modi akan dilunasi setelah 5 tahun Hindu Mahasabha memasang patung Godse di tempat-tempat ibadah.

Sebuah protes satir direncanakan untuk berlangsung di depan kantor pusat Hindu Mahasabha pada Hari Valentine. Facebook event page tersebut memuat 1.700 orang yang menyatakan mereka akan hadir:

All struggling lovers of the world and otherwise! Lets gather in heartfelt gratitude outside the Hindu Mahasabha's head office on Mandir Marg […] this Valentine's Day for the most EPIC mass marriage ceremony Delhi will ever see! 

Semua pasangan yang dalam kesulitan maupun tidak! Mari berkumpul dengan rasa terimakasih yang mendalam di depan kantor pusat Hindu Mahasabha di Mandir Marg […] di Hari Valentine ini untuk perayaan perkawinan massal yang terepik yang pernah dilaksanakan di Delhi!

"SHUDDH DESI ROMANCE: Hindu Mahasabha Style!" a  protest against Hindu Mahasabha's plan to marry off couples wishing "I love you" on social media or in public

“ROMANSA SHUDDH DESI: Ala Hindu Mahasabha!” sebuah protes menentang rencana pernikahan paksa oleh Hindu Mahasabha bagi pasangan yang menunjukan kasih sayang di ruang publik pada hari Valentine. Foto dari laman Facebook event.

Dengan semakin dekatnya Hari Valentine, polisi mengawasi tempat-tempat yang mudah diserang kelompok-kelompok tersebut. Inspektur Jendral kota Meerut Alok Sharma dikutip  Times India. “Hari Valentine ataupun hari lainnya, tidak ada yang berhak untuk menjadi polisi moral. Tapi jika anggota gerombolan tersebut terlibat dalam kegiatan semacam itu, mereka harus siap menghadapi tindakan hukum.”

Dengan kultur global yang semakin bisa diterima secara lokal, intoleransi beberapa agama dan grup politik akan perubahan gaya hidup mengganggu keharmonisan masyarakat. Intoleransi seperti ini mengakibatkan kerugian besar bagi banyak orang, merusak Hak Asasi Manusia dan kebebasan pribadi.

 

Mulai Percakapan

Relawan, harap log masuk »

Petunjuk Baku

  • Seluruh komen terlebih dahulu ditelaah. Mohon tidak mengirim komentar lebih dari satu kali untuk menghindari diblok sebagai spam.
  • Harap hormati pengguna lain. Komentar yang tidak menunjukan tenggang rasa, menyinggung isu SARA, maupun dimaksudkan untuk menyerang pengguna lain akan ditolak.