Simpan bahasa-bahasa tersebut? Kami menerjenahkan kisah-kisah Global Voices agar media warga global dapat dinikmati semua orang.

Kenali lebih lanjut Terjemahan Lingua  »

Korea Selatan: Reaksi Setelah Kematian Pengantar Pizza '30 Menit’

Strategi pemasaran Domino's Pizza yang terkenal menjanjikan pengantaran pesanan pizza dalam waktu 30 menit menimbulkan reaksi publik di Korea Selatan, menyusul kematian beberapa pemuda pengantar.

Persatuan Pemuda, serikat Untuk Kesehatan Kerja dan Lingkungan (FOEC) dan beberapa serikat buruh mengadakan konferensi pers pada tanggal 8 Februari 2011, di depan kantor pusat Domino's Pizza di ibukota Korea Selatan, Seoul, mendesak perusahaan itu agar menghapuskan sistem pengantaran '30 Menit’.

South Koreans are discovering the hidden cost of their takeaway pizzas. Image in public domain via Wikimedia.

Warga Korea Selatan menyadari pengorbanan tersembunyi di balik pizza pesan antar mereka. Gambar di ranah publik via Wikimedia.

Masalah ini mengumpulkan perhatian besar dari media pada bulan Desember 2010, ketika seorang pemuda pengantar paruh waktu berusia 24 tahun tewas dalam kecelakaan mobil selagi mengantarkan pesanan [ko]. Tahun lalu saja tiga orang dari merk yang sama tewas dalam kondisi serupa.

Menurut Departemen Pekerjaan dan Tenaga Kerja Korea, tercatat lebih dari 7.000 kecelakaan sepeda motor terkait dengan pesan antar per tahun. Beberapa ribu orang, termasuk penulis selebriti, aktris terkenal dan beberapa akademisi secara resmi menyatakan keprihatinan atas sistem '30 Menit'; sistem ini memaksa personil pesan antar agar mengemudi dengan cepat dan membahayakan, karena mereka diberi penalti atau dipaksa membayar biaya pesanan ketika batas waktu pengiriman 30 menit tidak terpenuhi.

‘Garansi 30 Menit’ semula diperkenalkan oleh Domino's Pizza di Amerika Serikat tahun 1973, namun akhirnya dihapus setelah beberapa tuntutan hukum berkaitan dengan mengemudi ugal-ugalan terkait dengan kebijakan itu.

Kondisi Kerja yang Tidak Ramah

Jika kebanyakan merk-merk pizza terkenal bila menerima keluhan tentang lambatnya pengantaran, mereka memberikan pizza gratis atau diskon. Dalam kasus Domino Korea Selatan, ketika 30 menit berlalu sejak saat pemesanan, pelanggan mendapat diskon 2,000 won (sekitar USD 2) untuk masing-masing pizza. Setelah 45 menit, pelanggan mendapat gratis pizza atau makanan pendamping.

Yang memperburuk kondisi kerja yang sudah tidak ramah yang dialami personil pesan antar di negara ini adalah para pelanggan yang menahan lift mereka atau tidak membukakan pintu agar pengantaran tertahan demi mendapatkan pizza gratis. Beberapa pelanggan meminta pesan antar bahkan pada hari-hari yang sangat bersalju, ketika banyak kedai pizza lainnya tidak menerima layanan pesan antar.

Gloria Gu, seorang peneliti magang untuk FOEC menulis di halaman yang didedikasikan ke isu '30 Menit’ di situs jejaring sosial Facebook, “15 menit sudah cukup untuk membunuh seorang pria tak bersalah”. Diyakini bahwa dibutuhkan waktu rata-rata 15 menit untuk membuat pizza.

Dia mendorong lebih banyak orang agar bergabung dengan protes sosial ini:

30분 배달제라는 청년노동자의 삶이 아직까지 자신의 일이 아니라며 외면하는 사람들도 많이 있을 것입니다. 기업의 경제논리 때문에 어쩔 수 없다고 치부해버리거나 폐지할 이유가 없다고 하는 사람도 있을 것입니다. 그렇지만 그 사람들의 관심까지 모아, 더 이상 무고한 희생이 일어나지 않도록, 모든 노동자들이 생명의 위협을 받지 않고 안전한 환경에서 일할 수 있도록 끝까지 함께해주십시오.

Pasti ada banyak korang yang memilih untuk mengabaikan masalah ini, menjelaskan pada diri mereka sendiri bahwa nyawa para pekerja muda di bawah sistem 30 menit tidak ada hubungannya dengan kehidupan mereka. Harus ada orang yang setuju situasi ini adalah sebuah fenomena sosial yang tak terelakkan disebabkan oleh sifat perusahaan yang mencari untung dan berpendapat bahwa tak ada alasan untuk memperdebatkannya. Tapi kita perlu mendapatkan dukungan bahkan dari orang-orang semacam itu, demi menghentikan pengorbanan korban tak bersalah yang berkelanjutan. Mohon untuk tetap bersama kami sampai akhir, sampai semua pekerja bekerja dalam lingkungan yang aman tanpa pernah mempertaruhkan nyawa mereka.

Berikut artikelnya, komentar seperti ini yang diposting:

권용진 신호를 위반하고 배달하는 이들을 안좋은 시선으로 바라보았었는데… 그게 아니군요. 참 안타까운 일입니다.

Dam Juck 항상 빨리 안온다고 불평만 했었는데 이글을 보니 참 바보같은 짓을 했었군요.

Kwon Yong-jin: Dulu aku punya pandangan miring pada mereka yang mengantar [makanan] sambil mengabaikan tanda-tanda lalu lintas. Tapi itu [mengacu pada pandangannya] tidak benar. Ini situasi yang patut disesalkan.

Dam Juck: Aku selalu mengeluh tentang pengantaran yang tidak cukup cepat, tapi setelah membaca artikel [Facebook] ini, sekarang aku sadar kalau sudah bertingkah seperti idiot.

Para pengguna internet Korea mengajukan petisi online di situs Daum Agora, yang telah mengumpulkan 1,000 tanda tangan. Petisi ini menunjukkan bahwa sistem '30 Menit’ harus segera dihentikan demi keadilan dan keamanan masyarakat:

30분 배달제로 아르바이트 하는 청소년들이 안따갑게 배달사고로 목숨을 잃고있다. 영리를 목적으로 지나친 업체경쟁으로 목숨을 요구하는 부도덕한 상술이다. 과연. 알바생의 목숨을 요구해야 할 만큼 부도덕한 사회가 되었단 말인가?![…]또한 운전자 입장에서도 30분 배달제 인해 언제 배달원들이 목숨걸고 튀어나올지 몰라 불안한 상황이다. 한편 선진국에서 이런 영업행태가 적발되면 사법당국에서 살인미수죄로 처벌한다.

Pekerja paruh waktu muda kehilangan nyawa mereka karena kecelakaan saat mengantar yang disebabkan oleh ciri khas pizza ini ‘Kebijakan pesan antar kurang dari 30 menit’. Ini adalah strategi pemasaran yang tidak bermoral didorong oleh tujuan untuk menguntungkan perusahaan karena mereka menghadapi persaingan yang semakin ketat. [Dan ini artinya] nyawa manusia ditahan sebagai sandera. Apakah bangsa kita berubah menjadi masyarakat yang begitu tidak bermoral hingga kita menuntut nyawa pekerja paruh waktu [untuk mendapatkan keuntungan lebih]?! […]Para pengendara merasa tidak aman karena para pengantar bisa muncul entah dari mana sambil melakukan pengantaran ugal-ugalan. Di beberapa negara maju, ketika sistem manajemen semacam ini terdeteksi, sistem peradilan dapat menghukum hal ini sebagai kasus percobaan pembunuhan.

Blogger Bolin3 mengingatkan [ko]bahwa kebijakan pesan antar ini mungkin muncul sebagai akibat dari budaya ‘Palli-Palli‘ (‘lebih cepat lebih cepat’) perusahaan Korea, yang hanya berfokus pada menghasilkan cepat, hasil secara kuantitatif:

얼마전에 등록금을 벌기 위해 피자 배달을 하던 한 대학생의 오토바이 사고 후 사망사고를 뉴스로 전해들었던 기억이 있습니다. 그냥 그랫나보다 좀 천천히 다니지…그랬죠.동네에서 폭력질주하는 오토바이들에 아이들이 몇 번 놀라서 대수롭지도 측은하지도 않게 넘겼나 봅니다. 그런데…그 질주에 이면에는 배달원들이 어쩔 수 없었던 불가항력적인 부분이 있었네요. 오늘날 대한민국이 있는데 한 몫을 했던 ‘빨리빨리'문화는 긍적적이고 하지만…그것이 우리도 모르는 사이에 고객만족이라는 이름을 달고 누군가에게 위압적이고 위험을 줄 수 있다는 생각을 가져봅니다.

Belum lama ini, aku mendengar berita tentang tewasnya seorang pemuda pengantar pizza. Dia bekerja di kedai pizza agar bisa masuk perguruan tinggi dan tewas karena kecelakaan motor saat bekerja. Reaksi [pertama] ku adalah ‘Yah, itu biasa. Harusnya dia mengemudi lebih pelan’. Aku hampir tidak bersimpati padanya maupun menganggap kecelakaan itu masalah besar karena pengendara motor ugal-ugalan [oleh petugas pengantar] di lingkungan ini sering membuat anak-anakku ketakutan. Tapi […] sekarang aku menyadari bahwa ada kekuatan yang tak tertahankan di balik layar [biaya denda atas keterlambatan]. Meski kuakui kekuatan budaya ‘Palli-Palli‘ Korea yang berkontribusi pada pembangunan bangsa ini, namun hal ini telah berubah menjadi kebijakan menindas yang merugikan seseorang demi kepuasan pelanggan.
Posting ini dikoreksi dalam bahasa Inggris oleh Emma Brewin.

Mulai Percakapan

Relawan, harap log masuk »

Petunjuk Baku

  • Seluruh komen terlebih dahulu ditelaah. Mohon tidak mengirim komentar lebih dari satu kali untuk menghindari diblok sebagai spam.
  • Harap hormati pengguna lain. Komentar yang tidak menunjukan tenggang rasa, menyinggung isu SARA, maupun dimaksudkan untuk menyerang pengguna lain akan ditolak.