Simpan bahasa-bahasa tersebut? Kami menerjenahkan kisah-kisah Global Voices agar media warga global dapat dinikmati semua orang.

Kenali lebih lanjut Terjemahan Lingua  »

Perlukah Indonesia Membubarkan Kelompok-Kelompok Islam Garis Keras?

Front Pembela Islam (FPI), sebuah kelompok Islam di Indonesia, baru-baru ini masuk di dalam berita setelah suku Dayak  di Kalimantan Tengah mengusir delegasi-delegasi dari kelompok tersebut yang terbang dari Jakarta untuk meresmikan pembentukan FPI di daerah lokal.

Tidak lama kemudian, administrasi di Kalimantan Tengah memberitahukan presiden Indonesia, Ketua Parlemen, para menteri-menteri, dan Kepala Kepolisian Negara, tentang oposisinya terhadap kehadiran FPI di provinsi mereka dan menegaskan bahwa metode FPI tidak sesuai dengan pola hidup suku Dayak (orang asli Kalimantan).

Digital art by blogger Hasyim Soska which reads "I support Without FPI movement. It's time for Indonesia to speak up."

Digital art oleh blogger Hasyim Soska tertulis "Saya mendukung gerakan tanpa FPI. Sudah saatnya Indonesia berani berbicara."

Sebelumnya, FPI dituduh menggunakan intidimasi dan cara-cara kasar untuk menyerang agama-agama minoritas dan juga menyerbu bar dan rumah minum yang tetap buka di bulan puasa.

Suku Dayak telah memberi inspirasi kepada orang-orang Indonesia yang lain untuk mengungkapkan pendapat mereka terhadap FPI. Ada beberapa pengusulan untuk membubarkan FPI dan kelompok-kelompok lainnya yang mirip. Hashtag-hashtag seperti #IndonesiaTanpaFPI, #indonesiaamantanpafpi , dan #bubarkanfpi dibanjiri dengan komentar-komentar dari rakyat Indonesia yang aktif secara online.

@goodXgars: Sesungguhnya surga itu diperuntukkan bagi orang baik dan beriman, bukan bagi yg paling lantang meneriakkan nama Tuhan. #bubarkanFPI

@IwanKamah: Ikut #IndonesiaTanpaFPI, pasti org itu tak suka kekerasan krn track record FPI buruk. #IndonesiaTanpa JIL pasti org kolot tak suka debat..

@absolutia: semoga kampanya hari ini tdk ada aksi2 “dadakan” rampas poster, gebuk protester, seperti yg dilakukan antek FPI2 saat #IndonesiaTanpaFPI 🙂

@rarawilis: Liat demonya FPI, gak mutu, blgnya demo damai, tp kok nolak demokrasi?#IndonesiatanpaFPI

 

Radio personality dan narablog Panji Pragiwaksono menulis tentang tuntutan supaya FPI di bubarkan. Panji mendaftarkan argumen-argumen yang bertentangan untuk membubarkan FPI.

1) Karena pembubaran FPI hanya akan membuat mereka muncul kembali dgn nama yg baru

2) Karena negara membebaskan siapapun untuk berkumpul dan berserikat. Menghalangi itu, hanya akan berdampak buruk kpd diri kita sendiri
3) Kalau FPI melakukan kegiatan2 yg melanggar hukum, ya pelakunya yg ditindak. Sama aja seperti misalnya POLRI ada yg melanggar hukum, ya pelakunya yg ditindak. Bukan POLRInya yg dibubarkan

Di dalam talk shownya, Panji mengundang penjabat resmi FPI Habib Selon yang menyatakan bahwa FPI bertindak sebagai perisai untuk rakyat, dan hanya “menyerang” tempat-tempat tidak bermoral ketika polisi menolak untuk bertindak untuk memperbaiki tempat-tempat tersebut. Menanggapi pertanyaan Panji, mengapa FPI didirikan oleh jendral-jendral, (salah satunya adalah Jenderal Wiranto yang akan mencalonkan diri untuk kepresidenan 2014) Selon mengatakan:

“Jendral jendral itu adalah pendukung Islam. Boleh boleh saja mereka mendukung Islam. Semua orang Islam pasti mendukung FPI”

Saya memotong dan berkata “Tidak semua lho Bib. Saya aja tidak mendukung FPI..”
Dia menyahut “Mereka yang ga stuju FPI, bukan org Islam!”

Percakapan tersebut terekam. Di kaset.

 

Sementara, Organisasi Kooperasi Islam (Organization of Islamic Cooperation atau OIC) memberitahu kepada Jakarta Post bahwa orang-orang Indonesia seharusnya bertanya mengapa kelompok-kelompok seperti FPI mendapat izin untuk berbicara atas nama Islam.

Seorang blogger anonim yang diketahui sebagai Jakarta Commuter mengatakan bahwa Indonesia masih membutuhkan FPI. Dia menjelaskan:

Jujur, saya lebih memilih FPI untuk tetap ada. Mereka yang berani kontrol bung.. Tapi anarkis harus dibuang jauh-jauh. Tindak pelaku, bukan organisasinya.

FPI juga jangan membela anggota-nya yang memang salah dan memanfaatkan atribut organisasi untuk melakukan tindakan anarki maupun premanisme.

Gerakan anti FPI hanya merupakan tunggakan liberalis yang pro terhadap kebobrokan moral. Mengatakan kebebasan sebagai hak asasi, tapi menjatuhkan martabat budaya timur. Sok kebarat-baratan, tapi tidak mengetahui apa yang harus dibela.

Di dalam blog-nya, Panji menunjukan bahwa yang miskin curhat kepada kelompok-kelompok seperti FPI yang memberikan apa yang mereka butuhkan seperti bantuan kesehatan, peminjaman kecil,  pendidikan – bantuan-bantuan yang pemerintah gagal untuk menyampaikan.

Pemerintah lalai dalam membantu mereka, masyarakat kelas menengah dgn starbucks di tangan kanan dan iphone di tangan kiri tidak peduli kepada masyarakat sekitar.

 

Dia menambahkan:

[…] Di satu sisi apa yang mereka lakukan adalah baik.

Di sisi lain, mereka memanfaatkan rakyat yg mereka beli untuk jadi basis massa yang kelak mereka manfaatkan untuk kepentingan kepentingan pribadi

Ketidak pedulian kelas menengah kepada sekitarnya, telah berbalik dalam wujud yang lebih membuat resah.

Kesimpulannya, Panji mengatakan membubarkan FPI bukanlah sebuah solusi:

Solusi yang benar, adalah dengan mulai peduli kepada sesama rakyat Indonesia yg membutuhkan

Digital art by blogger Hasyim Soska.

Mulai Percakapan

Relawan, harap log masuk »

Petunjuk Baku

  • Seluruh komen terlebih dahulu ditelaah. Mohon tidak mengirim komentar lebih dari satu kali untuk menghindari diblok sebagai spam.
  • Harap hormati pengguna lain. Komentar yang tidak menunjukan tenggang rasa, menyinggung isu SARA, maupun dimaksudkan untuk menyerang pengguna lain akan ditolak.