Simpan bahasa-bahasa tersebut? Kami menerjenahkan kisah-kisah Global Voices agar media warga global dapat dinikmati semua orang.

Kenali lebih lanjut Terjemahan Lingua  »

Guinea: Amarah, Perkabungan Setelah Pembantaian Brutal

Meski masih dibawah pengawasan ketat polisi, hari ini Guinea mengakhiri masa berkabung resmi, yang berlangsung selama beberapa hari, mengenang para korban yang tewas akibat pembantaian mendadak dan mengejutkan yang diluncurkan kearah demonstarn oposisi hari Senin lalu.  Sekitar 157 (jumlah korban dapat meningkat) demonstran tak bersenjata diperkirakan tertembak, tertusuk atau dipukuli hingga tewas oleh tentara angkatan darat di dalam dan sekeliling “Stadium 28 September”, di mana gerakan koalisi oposisi, “Forces vives,” menyatakan tentangan terhadap pimpinan angkatan bersenjata pengganti presiden Dadis Camara dan rencananya untuk mencalonkan diri menjadi presiden dalam pemilu Januari 2010. Tragisnya, stadium ini dinamakan 28 September 1958 untuk hari kemerdekaan Guinea dari Perancis . Kini, stadium tersebut akan dikenang sebagai tempat penyiksaan dan pembunuhan massal urutan kedua di Conakry, setelah Kamp Boiro.

Rekaman video tentara Guinea menembak demonstran di Conakry hari Senin 28/09/09 (ANSA, di YouTube)

Hari yang sama, narablog Guinea Konngol Afirik menulis dengan amarah dingin [fr], dari Eropa :

Les responsables du carnage de cette journée noire ont pour nom Capitaine Moussa Dadis Camara, chef de la junte et président de la République autoproclamé, Capitaine Tiegboro Camara secrétaire d’État chargé de la lutte anti-drogue et du grand banditisme, Général Sékouba Konaté ministre de la Défense, Jean Claude Pivi ministre chargé de la sécurité présidentielle. Encore une fois, l'Union Africaine et la CÉDÉAO et les partenaires internationaux se sont révélés ineffectifs devant un officier putschiste prêt à marcher sur des cadavres pour conserver le pouvoir.

Mereka yang bertanggung-jawab atas pembantaian di hari kelam itu adalah Kapten Moussa Dadis Camara, pemimpin junta dan presiden republik gadungan, Kapten Tiegboro Camara, Sekretaris Negara yang berwenang atas penanggulangan obat terlarang dan perbanditan, Jendral Sekouba Konaté, Menteri Pertahanan, dan Jean Claude Pivi, kepala ajudan  kepresidenan. Sekali lagi, Uni Afrika, ECOWAS dan para mitra mancanegara terbukti tidak efektif menghadapi sang pemimpin kudeta, yang siap melangkahi mayat-mayat demi mempertahankan kekuasaannya.

Kapten Moussa Dadis Camara, yang merebut kekuasaan melalui kudeta tak berdarah tepat sembilan bulan lalu, sekitar satu hari setelah  meninggalnya diktator Lansana Conté, pada mulanya memberikan harapan besar pada rakyat Guinea. Karena dia masih muda, dididik di luar negeri (Jerman), dan tidak terkait dengan diktator terdahulu. Seperti dikenang Noël Etienne Gnimassou, teknisi pabrik aluminium di Conakry, dalam situs internet “Les observateurs” milik saluran TV France24 [fr], harapan itu berlangsung tiga bulan saja:

Le capitaine Camara est incompétent pour le poste. Il s'est contenté de travailler pendant les trois mois qui ont suivi sa prise de pouvoir : il a lutté contre la corruption, il a mis à la retraite les vieux généraux fidèles au président Conté et il s'est attaqué au trafic de drogue. Mais passé cette période, il a commencé à se sentir à l'aise dans le fauteuil de président.

Kapten Camara tidak layak menduduki jabatan tersebut. Dia bekerja dengan baik selama tiga bulan semenjak merebut tampuk kekuasaan: memerangi korupsi, memaksa para jenderal lama yang setia kepada President Conté, untuk pensiun, dan memerangi penyeludupan narkoba. Namun setelah periode tersebut, dia mulai merasa nyaman menduduki  kursi kepresidenan.

Di YouTube, akun tak bernama “Dadis Show” mendokumentasikan pergelinciran pesatnya ke dalam kediktatoran brutal mulai dari kumpulan pidato penuh gerutuan yang, sejak awal, menimbulkan keraguan atas kemampuan memimpin seorang pemimpin yang diberi nama panggilan Kapten Dadis dan Tuan Camara [fr] oleh majalah Jeune Afrique.


Kemudian, berita perlahan-lahan menyebar lewat grup percakapan  pribadi warga setempat, dokter-dokter, dan koresponden mancanegara mengenai aksi pemerkosaan brutal, tentara yang berusaha menyelubungi betapa parahnya pembantaian yang terjadi, dengan mencuri jenazah-jenazah dari ruang-ruang penyimpanan jenazah, atau dengan terburu-buru mengubur para korban di tempat.

Anonymous :J'ai une collègue qui a perdu son neveu, mais d'apres les militaires qui ont répondu a son téléphone portable, la famille ne récupérera  pas le corps. On est confine dans les maisons. C'est vraiment terrifiant.

Identitas dirahasiakan: Kolega saya telah kehilangan keponakannya, tapi menurut para tentara yang menjawab ponsel sang keponakan, keluarga korban tidak akan diperbolehkan menjemput jenazahnya. Mereka dilarang meninggalkan rumah. Situasinya sangat mengerikan.

Hari Kamis, desas-desus dikonfirmasikan oleh testimoni publik, di radio Perancis RFI, dari seorang tentara menyatakan keikutsertaannya dalam aksi berdarah tersebut merupakan “atas perintah.”

Kapten Dadis Camara, dalam sebuah pengumuman resmi [fr], membantah bertanggung jawab, dan sebaliknya menuduh oposisi dan para tentaranya : “Bahkan kepala negara sekalipun tak dapat membatasi aksi ini“. Masih tidak diketahui siapa yang sebenarnya mengendalikan angkatan bersenjata, yang memberi perintah untuk memburu dua koresponden media asing, yang “memberikan Guinea nama buruk.”  Sebagian besar komentator dalam situs berita diaspora dan forum-forum di Guinea merasa tergempar atas “air mata buaya” sang kapten, dan melihat perkembangan satu lagi tipu muslihat dalam seruannya untuk “penyelidikan internasional” dan “membentuk pemerintahan koalisi”:

Oumar, seorang ekspat di Guinean, mendesak warga Guinea  untuk tidak terjebak, entah karena takut atau haus kedamaian:

Son dernier subterfuge est le gouvernement d’union nationale. Le dictateur sait que si l’opposition accepte de faire partie d’un pareil gouvernement, la communauté internationale serait embarrassée dans l’application des sanctions. Comment punir des bourreaux si leurs victimes collaborent avec eux dans un même gouvernement ?Autre idée du chef de la junte pour échapper à la justice internationale : une commission d’enquête internationale avec à sa tête un « sage africain ». À qui pense t-il quand il parle de ce fameux « sage africain » ? Certainement à son mentor Abdoulaye Wade président du Sénégal voisin qui l’appelle affectueusement « mon fils » et qui est avec Kadhafi le seul Chef d’État africain à l’avoir ouvertement soutenu depuis le début.

Muslihat terakhirnya adalah pemerintahan persatuan negara. Si diktator tahu jika pihak oposisi setuju bergabung dalam pemerintahan serupa, maka komunitas internasional akan merasa canggung untuk menjatuhkan sanksi  Bagaimana caranya menghukum algojo jika para korban  malah bekerja sama dalam pemerintahan(sang algojo)? Gagasan lainnya pemimpin junta  adalah dengan menghindari pengadilan internasional: sebuah komisi penyelidikan internasional yang dipimpin “orang bijak dari Afrika.” Siapakah yang dia maksud ketika dia berpikir tentang  “orang bijak dari Afrika” terkenal ini? Tentunya sang guru, Abdoulaye Wade, Presiden negara tetangga Senegal, yang secara akrab memanggilnya “putraku” dan, selain Kaddafi, adalah kepala negara Afrika satu-satunya yang secara terbuka mendukung [Dadis Camara] sejak awal.

Kapankah ini akan berakhir? Dalam analisa di situs BBC, analis Paul Melly memberikan salah satu alasan mengapa Guinea telah mengalami lima dekade dalam genggaman para diktator :

Guinea memiliki kekayaan alam yang mencukupi. Tidak mudah untuk menumbangkan sebuah rezim hanya dengan tekanan dari luar. Rezim [terdahulu] Conte bertahan selama bertahun-tahun di bawah sanksi peniadaan bantuan dari Eropa, tanpa sekalipun menyerah kepada tuntutan Uni Eropa untuk reformasi politik.

Gempar di Jerman

Sementara itu, nasib Guinea memicu satu lagi kontroversi. Begitu diketahui di Jerman, tempat di mana Dadis Camara menerima latihan militer, bahwa dia fasih bahasa Jerman dan selalu mengenakan lencana pasukan penerjum payung Jerman di baret merah angkatan daratnya, departemen pertahanan Jerman mengeluarkan pernyataan bahwa pelatihan prajurit-prajurit asing di Jerman merupakan upaya pemerintah Jerman untuk mengembangkan demokrasi di luar negeri dan “Berlin tidak dapat dituding bila para prajurit latihannya kemudian berganti haluan setelah kembali ke negara mereka masing-masing.” Kegemparan meluap dalam sepuluh halaman komentar di  situs berita Die Welt [jerman]:

Angelina: Diesem Schwein sollten alle Titel und Ränge der Deutschen Bundeswehr aberkannt werden,das Fallschirmspringerabzeichen müßte ihm Frau Merkel persönlich vom Barrett reißen!

Seluruh gelar dan pangkatnya  babi ini seharusnya dicabut, baik dari angkatan bersenjata Jerman, juga lencana pasukan terjun payung, Ny. Merkel pantas secara pribadi merobek lencana-lencana tersebut!

Mulai Percakapan

Relawan, harap log masuk »

Petunjuk Baku

  • Seluruh komen terlebih dahulu ditelaah. Mohon tidak mengirim komentar lebih dari satu kali untuk menghindari diblok sebagai spam.
  • Harap hormati pengguna lain. Komentar yang tidak menunjukan tenggang rasa, menyinggung isu SARA, maupun dimaksudkan untuk menyerang pengguna lain akan ditolak.