September, 2009

Kumpulan Artikel dari September, 2009

Puerto Riko: Debat tentang Sensor

  30 September 2009

Departemen Pendidikan pemerintah Puerto Riko baru-baru ini mengeliminasi lima buah buku dari kurikulum kelas sebelas sistem sekolah negeri. Banyak penulis dan artis di Puerto Riko secara terbuka menyatakan kekhawatiran mereka dan menggambarkan aksi pemerintah sebagai sensor. Dunia blog Puerto Riko bereaksi terhadap kontroversi ini.

Bhutan: Perubahan Iklim dan Agama

  28 September 2009

“Bagi warga Bhutan, ada alasan yang lebih kuat lagi untuk mempercayai adanya perubahan iklim. Dalam agama kita, Budhisme menubuatkan adanya perubahan iklim,” komentar YesheyP dalam Kuzu Bhutan Weblog.

Dunia Arab: Keperawanan Artifisial Buatan Cina

  28 September 2009

Narablog Maroko Mounir menulis dalam blognya Des maux à dire [Fr] mengenai selaput dara artifisial, buatan Cina, yang tampaknya digandrungi dan mulai meraih banyak perhatian dari pembeli asal Arab. “Di negara-negara Arab, warga Suriah menyaksikan “produk” revolusioner ini membanjiri pasar gelap. Di Mesir, para penanam modal mulai serius memasarkan operasi...

Cina: Gadis Cilik Ingin Menjadi “Pejabat Korup”

  25 September 2009

Southern Metropolitan Daily, koran harian Guangzhou, mewawancarai beberapa anak sekolah dasar tentang cita-cita mereka. Salah satu di antara mereka memberitahukan wartawan bahwa impiannya adalah untuk “menjadi pejabat.” Sewaktu wartawan tersebut menanyakan jenis pejabat apa, dia menjawab kalau dia ingin “menjadi pejabat korup. Habis pejabat korup punya banyak barang bagus."

Baca pos ini.

Jepang: Kekhawatiran akan penyebaran HIV dan AIDS

  22 September 2009

Terdapat statistik yang menakutkan tentang penyebaran HIV and AIDS di Jepang. Ketika negara-negara maju, menurut laporan UNAIDS, mengalami penurunan kasus kasus infeksi, Jepang tampaknya menjadi satu-satunya negara [jp] dimana angka penduduk yang mengidap HIV positif dan AIDS meningkat.

Maroko: Buruh Anak-Anak di Bawah Sorotan

  16 September 2009

Seorang gadis muda sedang menderita di rumah sakit, tubuhnya memar habis dianiaya. Setelah dikirim sebagai pembantu rumah tangga pada usia 10 tahun, Zineb Chtit tidak lagi mengetahui kehidupan lain di luar bekerja untuk majikan kaya yang menganiaya dan tak memberinya makanan. Seperti kata A Moroccan About the World Around Him...