Simpan bahasa-bahasa tersebut? Kami menerjenahkan kisah-kisah Global Voices agar media warga global dapat dinikmati semua orang.

Kenali lebih lanjut Terjemahan Lingua  »

Sudan: Bertahan Tanpa Pertolongan LSM

4 Maret 2009, Pengadilan Kriminal Internasional – the International Criminal Court (ICC) meluncurkan perintah penangkapan presiden Sudan Omar Hassan al-Bashir. Gantinya, 13 LSM internasional di usir dari Sudan keesokan harinya, meningkat menjadi 16 dalam jangka waktu satu minggu. Hasilnya, puluhan projek terpaksa dihentikan: penyediaan air bersih, makanan, kesehatan dan pendidikan adalah contoh projek yang terhenti.

Akibatnya, banyak warga Sudan yang terpaksa mengungsi, mencari perlindungan di luar negeri. Victor Angelo [pt] mengunjungi sebuah kamp di Goz Beida, 200 kilometer tenggara Abeche, di Chad, dari sana dia mengirimkan beberapa foto dan melaporkan adanya serangan oleh Jenjawid, atau “pengendara kuda”, paramiliter yang diduga dibayar oleh pemerintah Sudan.


Ouvir atentamente. Refugiado sudanês com quem me encontrei hoje em Goz Beida, 200 quilómetros a Sudeste de Abeche, durante a visita que Bernard Kouchner, Alain Le Roy e eu fizemos ‘a localidade

“Dengar baik-baik. Seorang pengungsi Sudan yang kutemui hari ini di Goz Beida, 200 kilometer tenggara Abeche,  mendapat kunjungan dari Bernard Kouchner, Alain Le Roy dan aku di tempat itu.

3357635154_ecd2f00f7f
As consequências da expulsão de 13 ONGs do Sudão sobre os parentes destes homens foi um dos temas que mais preocupou a assembleia. Que vai acontecer aos familiares que ainda se encontram no Darfur e que dependiam das ONGs humanitárias no que respeita a necessidades básicas, como água, alimentação , saúde e escolas?

Konsekuensi yang dihadapi anggota keluarga orang-orang ini akibat adanya  pengusiran 13 LSM dari Sudan merupakan hal yang menjadi perhatian utama. Apa yang akan terjadi pada keluarga mereka yang masih di Darfur dan mengandalkan bantuan kemanusiaan LSM seperti air bersih, makanan, bantuan kesehatan dan pendidikan?

3356923733_2d24e0f2be
A sina do Presidente Al-Bashir atraiu as atenções de todos. Os refugiados apoiam freneticamente a decisão do Tribunal Penal Internacional.

Nasib presiden Al-Bashir juga menjadi perhatian semua orang. Para pengungsi mendukung penuh keputusan Mahkamah Internasional.

3357749284_ebd09c0154-1
Vítima de ataque dos cavaleiros Jenjawid, aliados armados e organizados sob a forma de milícias, do Presidente do Sudão. Certos Jenjawid, palavra local que inicialmente queria dizer “homem a cavalo”, tornaram-se os principais actores dos crimes de guerra.

Seorang korban serangan Jenjawid, kelompok bersenjata yang di latih dan merupakan sekutu presiden Sudan. Beberapa Jenjawid, yang artinya “pengendara kuda” dalam bahasa Sudan, dituding sebagai pelaku utama kejahatan perang.

Warga propinsi Abeche telah mendapat pertolongan dari Dokter Tanpa Perbatasan – Médecins Sans Frontières [FR]. Meski dikenal luas, MSF merupakan salah satu LSM yang didepak Sudan. Kamp pengungsi  mungkin salah satu tempat paling memprihatinkan bagi MSF. Di Kalma, terletak di Selatan Darfur, kamp berukuran 6 kilometer persegi menampung 100,000 people orang yang tinggal di dalam “rumah-rumah” terbuat dari kayu, plastik dan apapun yang mereka temukan yang dapat melindung mereka dari teriknya matahari dan dinginnya malam.

Di kamp Kalma, MSF memberikan perawatan klinik darurat, unit kesehatan perempuan, dan bagian outreach [EN], yang melayani tak henti 200 hingga 300 pasien rawat jalan dan 200 pada unit kesehatan perempuan. Tim dokter terdiri dari warga negara asing dan warga Sudan, kini hanya warga Sudan yang terus bekerja bagi LSM tersebut. Namun,  menurut Lydia Geirsdottir, mantan kepala bagian pengawasan kamp, diantara mereka yang tinggal “hanya ada dua tenaga paramedik terlatih yang mampu memberi perawatan kesehatan dasar, masalah lainnya adalah persediaan obat yang menipis”. Cíntia Rojo [pt], yang mengamati berita ini dari situs MSF, mengatakan :

“Darfur concentra a crise humanitária de maior proporção na atualidade. Ou seja, um lugar onde vida e morte são separadas por uma tênue divisa. Desnutrição, doenças, violência. Os conflitos em Darfur se tornaram quase que crônicos e, como tudo que se prolonga, acabou caindo no “esquecimento” da comunidade internacional. A saída dessas ONG´s acarretou consequências graves para a população sudanesa pois grande parte dos projetos sociais vigentes na região eram patrocinados por essas entidades.

Darfur saat ini menghadapi krisis kemanusian. Dalam kata lain, inilah tempat dimana kehidupan dan kematian dipisahkan oleh garis tipis. Gizi buruk, penyakit, kekerasan. Konflik Darfur menyaris menjadi kronis, dan seperti hal apapun yang berlarut-larut, akan dilupakan komunitas internasional. Dengan hengkangnya LSM, masalah serius bermunculan bagi warga Sudan, sebab projek sosial besar yang disponsori LSM-LSM ini (terhenti).”

map

Darfur tanggal 5 Maret- lihat info gambar di samping yang menunjukan jumlah orang yang terimbas dengan diusirnya LSM : 4,7 juta warga. Unit bantuan yang dijalankan oleh LSM  serta 13 LSM yang dikeluarkan: Action Contre la Faim [FR] – Aksi Melawan Kelaparan; Solidarité [FR] – Solidaritas; Save the Children (Inggris dan AS);  Médecins Sans Frontières (Belanda&Perancis); CARE International; Oxfam; Mercy Corps; International Rescue Committee [EN] – Komite Penyelamatan Internasional; Norwegian Refugee Council [EN] – Badan Pengungsi Norwegia; CHF dan PADCO. Gambar disediakan oleh ReliefWeb. CKlik untu memperbesar gambar.

Save the Children telah beroperasi di Sudan lebih dari 20 tahun, dan 6 LSM lainnya beroperasi menolong para pengungsi di Darfur dan Kordofan Selatan, propinsi yang tahun 2008 lalu mulai dipenuhi kembali oleh 50.000 warga yang melarikan diri akibat perang, propinsi ini sebelumnya dinyatakan sebagai daerah darurat. Menurut Charles MacCormack, direktur LSM, dikeluarkannya Save the Children, “merupakan ancaman kesejahteraan bagi lebih dari satu juta anak-anak dan anggota keluarga dimana dua kantor LSM beri pertolongan yaitu dit:  Barat Darfur dan Utara Kordofan, Selatan Kordofan, dan negara-negara bagian Laut Merah dan komunitas di Abyei dan dekat Khartoum”.

Beberapa projek  Save the Children antara lain: distribusi makanan (3.583 ton makanan di 44 lokasi), air dan kebersihan (448 sumur air dan 177 pompa, yang menjangkau sekitar 201.500 orang), layanan kesehatan utama, pertanian, juga konstruksi dan pendidikan untuk guru.

Refugiadas

(Pengungsi- foto karya V. Ângelo)

CARE yang telah beroperasi selama 28 tahun di negara tersebut juga termasuk yang di usir, aktivitas mereka dihentikan secara paksa dan sebagian perlengkapan mereka disita pemerintah Sudan, termasuk komputer, mobil dan perumahan. LSM CARE bekerja di bidang pertanian, air dan kebersihan dasar, juga pendidikan dan layanan kesehatan. LSM Norwegian Refugee Council melaporkan, tak hanya perlengkapan mereka disita, namun para relawan mereka di tangkap pemerintah bahkan mengalami siksaan. OXFAM telah berada di Sudan selama 26 tahun dan bekerja langsung dengan 600.000 warga Sudan, LSM ini juga didepak namun mereka masih berusaha untuk kembali ke Sudan.

Suasana Darfur masih menegangkan, menurut AK. bloger Forsudan:

“Reaksi Khartoum sangat instan. Setelah berbicara dengan beberapa anggota keluarga di Sudan, situasi sepertinya kembali mencair, seperti kata sepupuku, ‘bisnis seperti biasa.’ Warga menduga kan adanya serangan yang terorganisir oleh pemberontak Darfur bernama Gerakan Keadilan dan Persamaan Hak, serupa yang terjadi pada bulan Mei 2008. Orang- orang menduga akan munculnya pertumpahan darah, tapi tak satu hal yang dikhawatirkan terjadi. Namun seperti yang dikatakan, warga saat ini merasa tegang dan khawatir terhadap apa yang dapat terjadi. Aku rasa warga khawatir terutama tentang implikasi perjanjian damai Utara-Selatan (CPA) dan reaksi pemerintah wilayah selatan. Inilah posisi partai -partai politik utama Sudan.  Juga, pemerintah telah mengusir beberapa LSM internasional, diantaranya  OXFAM, Care, dan Dokter Tanpa Perbatasan.”

Perkiraan yang dibuat sebagian besar LSM adalah akan munculnya petaka di pusat-pusat pertolongan pengungsi, dan hal ini akan berimbas pada 4,7 juta orang, 2,7 juta diantaranya diperkirakan akan melakukan eksodus. Lebih lanjut lagi, 1,5 juta memerlukan pertolongan medis, 1,1 juta  kekurangan makanan, dan satu juta tidak memiliki akses air bersih (data dirangkum OCHA [en]- Kantor  Urusan HAM PBB).  Selain itu,  munculnya penyakit meningitis (radang selaput otak, sumsum tulang belakang) dan “pertolongan medis tidak tersedia di kamp, tak seorangpun akan memberikan rujukan kepada pasien untuk berobat di Rumah Sakit yang berlokasi di Nyala, dan tidak adak vaksinasi massa. Itu berarti, warga akan meninggal”, kata Lydia Geirsdottir (MSF).

Oleh sebab itu, Lise Grande, Wakil Koordinator Warga Setempat dan Koordinator HAM PBB untuk Selatan Sudan  mengatakan: “Salah satu hal dari hasil pengamatan adalah kemungkinan laju migrasi warga”. Terdapat lebih dari 100.000 warga yang rentan akibat serangan yang dilakukan LRA termasuk lebih dari 36.000 orang yang mengungsi dari rumah-rumah mereka di Selatan Sudan, dan lebih dari 16.000 pengungsi dari Repulik Demokratik Kongo. “Tambahan 50.000 orang di komunitas induk dilaporkan rentan dan membutuhkan bantuan kemanusiaan,” menurut Grande.

Migrasi telah dimulai, dan beberapa laporan mulai bermunculan di blog-blog. Sudan-blog melaporkan rekonstruksi kamp baru di negara tetangga, Chad yang diperkirakan akan menampung  6.000 pengungsi.

Artikel asli ditulis dalam Bahasa Portugis, ditezrjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh Thiana Biondo.

Mulai Percakapan

Relawan, harap log masuk »

Petunjuk Baku

  • Seluruh komen terlebih dahulu ditelaah. Mohon tidak mengirim komentar lebih dari satu kali untuk menghindari diblok sebagai spam.
  • Harap hormati pengguna lain. Komentar yang tidak menunjukan tenggang rasa, menyinggung isu SARA, maupun dimaksudkan untuk menyerang pengguna lain akan ditolak.